Tampilkan postingan dengan label CERPEN NANI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN NANI. Tampilkan semua postingan

22/03/14

SERENADE SENJA

Cerpen : Nani.HS

Lengking camar masih mesra, panjang, dan halus bagai flute bersahut-sahutan. Iring-iringan kucica pulang ke sarang turut memberi irama nan jingga hampir padam. Pelan dan nyata kesyahduan itu menyusupi hati, membuat perasaannya ikut bergelombang.
Perlahan dia melangkah ke teras belakang yang menghadap taman. Disandarkannya tubuh di badan kursi berkelir gading yang kontras dengan geraian pekat rambutnya. Dihirupnya dalam-dalam aroma mawar yang tertata apik di seputar teras itu. Ah, dia sudah berkali-kali bermalam di villa itu. Sekali lagi dihirupnya wangi dari seputar taman. Ada yang terasa mengusik, bercampur-campur seperti kerdip kunang-kunang yang pernah dipergokinya suatu malam di sekitar situ.
Dia memejam lagi, menghela napas. Dia ingat sekali kalau senjanya pernah bersama Serenade Vantoselli. Tiba-tiba getar aneh meliputinya, bahkan meributi hatinya. Gejolak yang belum pernah dirasakannya seumur hidup dan riuh dan tak terhitung dengan debar ceria masa kanaknya.
Peristiwa itu begitu mendebarkan, mengejutkan, merupakan henyakan dari sebuah mimpi. Ia tak pernah berpikir kalau saja mimpi itu tamat demikian cepat, padahal malam belumlah berganti dini hari. Dia lalu termangu. Wajahnya rona berkali-kali. Dibiarkannya wajah itu terus hangat, sebab ulangan kehangatannya amat mengesankan. Semakin diulang semakin membujuk diri dibakar gairah yang mulai datang dari ubun-ubun.
Mula-mula semuanya ringan saja. Tapi tak lama sekejap itu juga darahnya berdesir-desir. Pelan dan teratur bahkan tak ampun lagi menjalari seluruh permukaan kulitnya yang halus langsat. Rambutnya mulai bermekaran, makin merayapi sekujur tubuhnya yang padat. Tiba-tiba ada yang terasa memburu.
Angin senja dan Serenade Vantoselli dengan halus menyeretnya ke suatu tempat yang belum pernah dikenalnya, melambungkannya ke cakrawala, berlomba dengan nadinya yang bagai hampir pecah ditingkahi deburan di dadanya. Ya, semakin tak mau reda. Dari awang-awang dia merintih dan menggeliat dengan raga tak lentur lagi. Amboi, bertambah bergetar dan bergelora. Gebrakan itu kuat sekali, menyilaukan peluhnya.
Bersama naik turunnya napas dia benar-benar menikmati seporsi keindahan yang entah bagaimana firdausnya. Anggur itu telah direguknya dari pendakian yang paling tinggi dan diteguknya sampai mabuk. Setelah itu betul-betul gelap. Segalanya lepas dan tak bersisa kecuali ada yang meninggalkan letih yang sangat nyata.
Ah, serenade itu memang sangat resap di hati apalagi untuk diselinapkan dalam kepala yang rawan. Gadis itu membalik dengan gelisah. Dia kecut, seperti setiap tarikan napasnya menjelmakan noda. Sebuah keterlanjuran yang tak sabar. Dia menyesal, sangat takut dan mendekap tubuhnya kuat-kuat. Ditatapnya potret laki-laki itu tak habis-habis. Benarkah ini tunanganya dan pilihannya sendiri? Menikah? Ya, itulah sebenarnya yang lebih pantas. Setidaknya, satu kata itu telah melegakan hati dan menumbali kebobolan moralnya.
Senja itu dan senja yang lain, serenade kembali mengulang alunnya. Meskipun tak mencuatkan debar apa-apa tetapi masih menjanjikan harapan. Sayang kegembiraan yang mengandung debaran itu tak bertahan lama. Dicobanya hadirkan sesuatu lagi, yang datang cuma kehampaan. Irama klasik Vantoselli hanya hadir dengan sinis, setelah itu pergi bersama waktu. Rasa tak percaya ia dengan perjalanan waktu. Seandainya ia dapat merangkul lagi kerinduan itu, betapa rekah dadanya. Tapi dia dan laki-laki itu telah terjauh. Ada jarak antara dia dan kenangan dan perantaraan itu telah mematikan segalanya. Terakhir ia tak dapat membayangkan bagaimana bulan perak melayari peraduan laki-laki itu dan sekretarisnya.
Gadis itu berdecak gundah. Bagaimana dengan pengorbanannya? Berdecak lebih gelisah ia. Bukan tak dicobanya menghindar dari pertanyaan laknat itu. Tapi penghindaran itu toh sia-sia. Kenapa pengaruh laki-laki itu begitu kuat? Apakah karena unsur ketenangan dan kewibaannya? Sudah berapa kali ia kalah dan membiarkan laki-laki itu membaca hatinya. Lalu, apakah lantaran laki-laki itu lepasan negeri Paman Sam? Tidak, gadis itu tidak pernah memberatkan pilihan pada materi. Entahlah dia tak tahu apa namanya. Mungkin karena dia sudah terlalu lama melupakan hal-hal semenarik itu.
Dia memejam lagi mata bundarnya dengan lembut, seolah ada sesuatu yang mengelusnya lambat-lambat. Wajah itu hadir lagi. Wajah yang lebih sederhana dari laki-laki tunangannya. Embi. Embilah yang mampu menidurkan segala rasanya. Embi mampu mengubur kelabunya. Untuk membenarkan itu semua, dia memang membutuhkan kejujuran pada dirinya sendiri. Kegembiraan datang juga dalam keheningan dan kembali menghimpun suka di hari-harinya.
Bahagiakah dia? Benarkah fajar baru akan menyingsing dalam hidupnya? Perlukah dia bersekutu dengan siapa-siapa untuk membenarkan kemungkinan tadi? Atau dia memang perlu dan berhak membebaskan diri dari hal-hal yang belum tentu? Atau lagi, lebih baik dirinya, menjadi lebih berguna dari sekadar itu?
Gadis itu tersenyum pahit. Diam-diam dia memang mengakui, Embi
sebenarnya telah menyentak-nyentak tirai hatinya. Rasanya dia hampir setipis kaca belling. Embi dengan gampang tinggal menerobas kaca belling itu bila dia suka. Gadis itu diam saja malam itu. Rasanya lebih tenang berbicara dengan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia tak menyukai Embi? Laki-laki laksana air mengalir dalam ketenangan, terus-menerus, membuai, dan menggelitik nalurinya. Bunga yang diberikan Embi ternyata betul-betul wangi. Benarkah itu? Betapa cinta saja tak cukup. Bagaimana dengan rentak silamnya yang pahit penuh noda? Sementara hidup tenang adalah cita-citanya yang tak luntur.
Rasa ingin melupakan tunangannya datang seketika dan menjadi keputusannya. Dia mulai bangga melihat Embi yang terus tegar, walau dalam ketidaktentuan rasa. Namun dapatkah hanya dengan kebanggaan itu dia bisa membuat titian antara Embi dan orangtuanya? Memang orangtuanya tak pernah melarang soal cinta putihnya kepada Embi yang beranak enam dan atasannya itu.
Ketika dihantam oleh pertanyaan yang berikhwal dari kesediaannya menjadi ibu dari bocah-bocah yang bukan datang dari rahimnya sendiri, dia mulai galau. Haruskah dia munafik? Wanita macam apakah dia ini? Apakah dia pun harus melupakan semuanya termasuk keluarganya sendiri? Tentu tak benilainya dia.
Gadis itu terisak. Sepuluh jarinya cepat-cepat mengatup muka. Himpunan musik Serenade Vantoselli hampir berketuk pada nada akhir. Senja sedikit lagi hitam. Langkah-langkah lembut dari ruang dalam semakin mendekat, memulangkan kembali terawangannya yang jauh. Lalu diteguknya sisa sedu cepat-cepat. Dia tak mati George Lindanya sempat membaca angan-angannya yang gelap. Dikecupnya anak gadis tanggungnya itu di ubun-ubun. Lalu Ratna menoleh pada Bustam, bekas pasien terakhirnya yang menjadi pilihan orangtuanya. Ya, mengapa tidak? Bukankah Bustam melebihi sekadar laki-laki idaman, mencintainya seadanya? Memang wanita lebih baik dicintai rupanya. Biar Serenade Vantoselli meraung-raung, ia tak kan peduli lagi. Dia ingin sekali senjanya cepat membuang sauh, supaya malam segera dilayarinya sampai berpeluh.

(Banda Aceh, Oktober 1990)



03/03/14

PEREMPUAN DI KING'S CHEVIOT

Cerpen : Nani.HS

Perempuan itu kaget, seketika ia pingsan. Tubuhnya yang tetap kelihatan ramping itu jatuh dalam pelukan. Laki-laki itu mendekapnya sejenak, lalu membawanya ke keteduhan di sekitar tanah perkebunan King’s Cheviot itu. Kemilau dahi perempuan disekanya. Dia menunggu beberapa saat. Lalu raga yang jatuh pingsan itu bergerak. Bulu keningnya naik turun, napasnya juga.
Perempuan itu berkedip-kedip bagai membenarkan penglihatannya. “Kau?!” sergahnya.
“Apa kabar?” balas laki-laki itu. Pandangannya menikam. Perempuan itu dibiarkan di pangkuannya. Tak juga dihapusnya mata yang membasah itu, seperti sengaja membiarkan lepas penyesalan lampau yang mengekang.
Kecuali dua pasang mata yang melihat-lihat, tak ada yang mulai bersuara lagi, membuat bicara dalam diam itu kian perih saja. Juga tak seorangpun mengerti mengapa mereka bertemu kembali. Benar, kadang hal yang mengejutkan tak pernah terduga datangnya. Taqdir adalah spesifik sifatnya. Mereka boleh percaya, pertemuan ini pun taqdir namanya.
Pemandangan di Anasteys Inggris tiba-tiba menggoda, seperti memanggil-manggil kembali gambar-gambar kabur yang pernah menjelajahi tahun-tahun belakang. Barangkali hanya dua saja kemungkinannya. Yang indah, atau cuma pernik-perniknya
saja.
Masa perpeloncoan itulah sebenarnya penyebabnya. Perempuan itu sampai menangis membacakan surat cintanya di hadapan cama-cami fakultasnya. Demi Tuhan dia benci sekali dengan salah satu seniornya. Kala itu diupamakannya sebagai badut keling lagi kerempeng. Tapi tidak disangka kalau akhirnya dia lupa diri pula dibuatnya. Batas benci tak sengaja telah dilewatinya. Terlalu benci sukalah jadinya. Seperti semerbak bunga levender di King’s Cheviot, begitulah perasaannya.
Laki-laki dan perempuan itu mulai bergandeng tangan juga. Jalan-jalan yang membelah kampus Unsyiah adalah juga bekas lintas sebuah asmara. Diingat-ingat masih segar rasanya sang kejadian. Setidak-tidaknya Bellina menjadi perantara terakhir dari perjalanan yang penuh warna itu. Perempuan itu mula-mula tidak percaya, namun adakah seorang yang dapat menolak kenyataan, dan kenyataan itu jugalah yang menenggelamkan dia akhirnya.
Sosok Bellina ternyata lebih menang dan menonjol dari segi titik pandang, lebih menghantarkan cuaca hangat yang semarak. Ya, bisa saja yang sederhana tidak kelihatan pesonanya bukan?
Asmaradana itupun benar-benar selesai jadinya. Sederhana saja. Seperti kisah klise lainnya, perempuan yang teduh itu pun lantas kalah dan mengalah. Karena pengecut? Bukan. Tidak ada kepengecutan dalam cinta sebenarnya. Yang lazim cuma wajah ganda cinta, itu saja. Juga perempuan itu tidak menyesal.
Tapi laki-laki itu betapa pahit kesalnya. Semua kesalahan yang amat meluputkan perasaan tertumpuk di dadanya. Terlambat sekali untuk membuka mata bahwa perempuan yang bukan Bellina itu sebenarnya tak dapat dilupakannya. Perempuan yang rasanya pantas jadi ladangnya, yang mampu memuat segala derita bahagianya.
Saat-saat yang paling malang dan sunyi adalah ketika undangan warna gading itu sampai di tangannya. Dia ingin sekali mengatakan ini tak mungkin, tapi itulah yang harus dipercayainya.
Diakuinya kalau perempuan itu bukanlah wanita yang pantas meraung-raung yang mungkin saja tak mampu berdiri sekalipun lantaran putus cinta.
Namun entah oleh latar belakang apa, laki-laki itu malah bererat-erat dengan perempuan-perempuan. Bulan bintang bahkan tampak lebih kilau. Andai perempuan boleh diserupakan dengan uang, karenanya kira-kira hijaulah mata lelaki itu. Barangkali benar, dia tak dapat bergerak tanpa perempuan. Perempuan yang tidak pernah sama dengan perempuannya. Ironis, manakala sadar ia merasa tak pernah berdosa. Tapi ketika kerinduan terhadap kekasihnya membuncah, dia tak bisa berkelik. Tak sebentar dia dapat mengibaskan segala sesuatu tentang perempuan itu.
Tetapi apakah maknanya kalau sekarang dia dipertemukan lagi dengan perempuan itu, keadaan dimana sudah berselang tahun dan kejadian? Ah, laki-laki itu tiba-tiba sadar. Perempuan di sampingnya itu tak lain dari istri laki-laki lain sekarang. Sangat memalukan dan dia bukan mahasiswa lagi.
“Lis ” katanya gugup. “Kau takut?” Lis bahkan dengan mudah membaca laki-laki itu. Ada yang berubah dari Lis. Masih lembut namun lebih berani sekarang. Mungkin saja, sebab perempuan kadang lebih terbuka kala dia sudah menikah. Laki-laki itu berpikir sejenak. “Ya, ini saat tepat,” batinnya. Bahkan ia akan menyesal kalau tak bicara. Apa yang bertahun mengganjal di dadanya mesti segera disampaikan pada Lis.
“Lis aku tak sempat hadir di pesta pernikahanmu. Aku di Medan waktu itu. Kembali ke Banda Aceh, aku tiba-tiba rindu kau, dan kangenku kulepas di kantin kampus kita dulu. Ya, Pak Man penunggu kantin kita itu, yakin kalau suatu saat aku akan menemuinya. Itu sebabnya dia tetap menyimpan undanganmu itu Lis. Apa boleh buat nyatanya aku baru datang dua tahun kemudian, sejak hari pernikahanmu. Memang sayang sekali. Aku terlambat bahkan hanya untuk membacanya.”
“Ya, dalam beberapa hal kita memang sering terlambat,” suara Lis samar-samar.
“Kabar juga untuk kau Lis. Kabar yang seharusnya tidak terlambat. Ini fofo istriku. Suatu saat dia pernah ingin sekali mengenalmu. Apa boleh buat, juga terlambat rupanya.”
“Maksudmu?” ,.
“Dia meninggal.” Laki-laki itu terdiam sebentar. Bagaimanapun ditahannya, matanya membening juga.
“Oh ya Lis, mana anak dan suamimu?”
“Tidak ada.” ucap Lis kemudian tanpa tanda-tanda iba ia pun mengulas senyumnya, lalu pelan berubah menjadi kekeh-kekeh panjang. Air mukanya aneh. Laki- laki itu mengguncang bahu Lis.
“Apa maksudmu Lis, kau tidak sedang menertawakan aku kan?”
“Kenapa tidak? Aku menertawakan semuanya, termasuk diriku sendiri. Ketahuilah aku tidak pernah jadi kawin,” suara Lis naik turun sekaligus dengan tawanya yang sampai menggoyangkan ikal mayangnya.
“Lis jangan main-main kau!”
“Hei, siapa yang suka main-main dengan perasaan? Dari dulu aku tak pernah main-main bukan?” Suara Lis keras terkacau dengan tawa yang keluar dari kerongkongannya yang menyekat. Entah rasa apa yang menyelinap, membuat dia tersedu. Getir sekali kedengaran bagi laki-laki itu. Lis mengalami dan memiliki nasib tak seelok yang dibayangkan. Kekeliruan siapakah? Apakah cukup dengan hanya
merindukan perempuan itu saja? Kasihan Lis.
“Lis ” itu saja yang terdengar dari mulut laki-laki itu. Lantas kedua sosok saling erat, mendaratkan kuluman, berputar-putar dengan merdeka. Apatah lagi laki-laki itu. Lis yang disangkanya hanya sebuah kenangan, ternyata sedikit saja lagi barangkali bisa dijangkau. Sekali ini dia seakan mendapatkan cinta yang romantis, yang matang.
Mata hari tinggal setengah lagi dari batas langit. Sedan buatan 1928 itu membelok ke hotel Ritzt, dimana laki-laki itu menginap. Lis lebih gembira sekarang, malah sejak meninggalkan ladang King’s Cheviot. Keseluruhan kecantikannya tak reda-reda mengundang minat laki-laki itu terus berdua-dua. Pelan sekali disentuhnya perempuan itu.
“Lis kita ke hotelku?”
“Terimakasih tapi tidak sekarang.”
“Kita hanya bercakap-cakap Lis.” Lis tidak menjawab, dia hanya mendekap laki- laki itu sekejap.
“Jangan aku, kau saja yang datang besok. Selamat tinggal,” desahnya. Laki-laki itu tiba-tiba saja berdebar. Ada yang turun menepi di hatinya, seperti tak sudi lagi dibayangkannya perpisahan itu.
Lewat pagi musim semi, diamatinya lagi kartu nama Lis. Wajahnya menjadi cerah, suara siulnya pecah di antara lorong gigi depannya yang patah. Berulang-ulang mengalunkan Autum Leaves. Laki-laki itu mencium lagi seikat leverder oleh-oleh dari Lis kemarin. Tapi dia begitu gugup. Mengapa menghadapi Lis ia begitu berkeringat? Dicobanya tetap gagah dan terus bersiul. Senandung itu baru berhenti persis di depan gerbang Cheviot Place nomor tujuh. Sebuah rumah megah yang lebih menyerupai castil di daerah Westminster, Inggris.
Jantung yang hanya sekepalan itu gemuruh lagi. Kepalanya terus digalaui rasa. Diciumnya sekali lagi kartu nama Lis. Pintu besar Cheviot Place terbuka. Hebat lagi sirap darahnya.
“Ya,” suara perempuan itu.
“Saya doel.”
“Nyonya St Vincen,” balasnya.
“Lis ada,” tanya Doel dengan santun. Mendengar itu perempuan penunggu rumah tercenung sebentar.
“Lis? Tunggu, apakah Anda tuan Abdoel?”
“Betul.”
“Sebentar.” Nyonya St Vincen berlalu dan kembali dengan sesuatu di tangannya.
“Tuan, beliau hanya menitip ini. Katanya suatu saat tuan akan datang ke sini.”
Tentang ini harus diperlihatkan pada tuan. “
“Terima kasih, tapi Lis kemarin berjanji menunggu saya di tempat ini. Apakah Lis sudah keluar?” Tuan Doel agak cemas. Sebaliknya perempuan itu berubah pucat. Dia tercengang sambil menutup mulutnya dengan tangan.
“Nyonya, dimana Lis,” Abdoel lebih cemas lagi sekarang.
“Oh my god, jadi… jadi Tuan belum tahu?”
Tuan Abdoel menjadi tak sabar. Kliping yang diberikan nyonya bule itu dibukanya cepat-cepat. Pada lembar terakhir tertulis: Lord Listerdale, Kolonel Carfak Hamilton, Rupper Quentine, Samuel Lowe,! Lista Herwazeny empat sosok berpengaruh di Inggris ikut terjebak dan tewas akibat bencana alam di kawasan festival musim salju tahun ini. Herwazeny menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit setempat. Tuan Abdoel terperangah dan menggigil. Lelaki berperawakan Hindustan itu tak dapat meneruskan berita edisi empat tahun silam itu. Kacau sekali persaannya. Tapi dia tak menyesal dengan pertemuan di tanah pertanian King’s Cheviot, kemarin.

(Banda Aceh, awal 1992)


16/11/11

ASEMNILA

Cerpen : Nani.HS

Gurat tajam wajah perempuan itu bertambah hilang timbul saja. Warna langsatnya juga sudah merona merah. Barangkali lantaran darah yang menyemburat di bawah kulit mukanya. Sebentar-sebentar giginya yang teratur itu gemertak, padat tubuh depannya pun naik turun tak beraturan.
Dia tak habis fikir mengapa Asem terlalu keras kepalanya. Padahal menurut kakeknya, keras kepala hanya bikin kita tak pernah maju ke depan, apalagi di abad supermodern orang sudah berlomba-lomba menjadi luwes. Pendirian yang alot-alot semakin disempurnakan.
Mana mungkin dia terus terusan terbenam oleh tetangga-tetangganya yang cara berfikirnya saja sudah seperti cerita majalah panas. Dimana orang-orang telah membicarakan soal ambisi orang pertama. Setidaknya menjadi orang kedua sudah boleh jadi acuan.
Hari raya kemarin, maminya Si Suhendro Rendro itu atau sama saja istrinya Pak Supariman itu diiisukan punya predikat baik. Tak percaya? Tanya orang selorong kampung itu. Ya tentu saja. Dia kan orang kedua di kantornya. Lha, sebagai orang ke dua, tak pelak lagi, umpamanya saja setiap lebaran dikirim orang kartu selamat yang ditaruh dalam keranjang rotan yang diberi rombe-rombe kertas minyak atau kreb namanya. Setiap tahun gudang Pak Supariman yang dua kali dua meter penuh dengan pemberian alat tepat guna itu. Silaturrahmi dengan keranjang, khabarnya lebih praktis dari pada sistem bertandang. “Wah enak juga jadi istri Supariman itu ya?” Hati Nila merasa-rasa sambil menghabisi rujak kelapanya.
“Ah tapi Supariman begitu sombong dengan tetangganya, lain dengan Asem suaminya yang bahkan lebih aktif diperkampungan,” bela Nila diam-diam.
Tapi itulah, perempuan itu cuma dibikin kesal setengah mati dalam soal irit mengirit dana dari suaminya. Jangan ganti sebelum rusak, begitu kira-kira ukuran Asem. Apalagi semangat dan pandangan Asem yang terlalu datar untuk sebuah zaman kemajuan.
Nila teringat lagi dengan keranjang ajaib keluarga Supariman. Biasanya waktu Trisuci pembantunya yang berambut megar buatan masih tinggal di rumah warna klenteng itu, muatan keranjang tadi suka disubsidi ke konco-konco sepramuwisma lorong itu. Atau dikemili sambil dengar sandiwara radio, atau sambil rehat di kios rempah Mak Diah.
Nah tahun ini lain. Kenapa tidak? Tahun ini Pak Supariman mendadak menjadi orang kedua teladan. Padahal sebelumnya tak ada pelancong kalangan tetangga yang mampir ke pondok indahnya, sampai akhirnya dia punya akal mujarab yang serta-merta bisa mengubah kesan kurang garam itu.
Rupanya Pak Supariman memang baik hati. Megang kemarin dua lusin seterupnya ludes dioper ke warga. Uang ribuan yang dipecah ratusan juga amblas untuk segerombol bocah berhari raya. “Hebat Bapak itu,” kata orang di pos jaga malam.
“Huh!.” Nila menghentak nafasnya kasar-kasar. Ingin rasanya perempuan itu menggumuli Asem dan mencakarnya sampai robek. Tapi, ah mana bisa, ia terlalu cinta pada laki-laki jangkung itu. Memang benar, akhir-akhir ini dia terlalu sering mendakwa suaminya seakan ada sesuatu yang didapat kalau saja suaminya mau membenarkan sesuatu menurut logikanya betul. Perasaan itu datang di sembarang tempat, waktu, dan mungkin saja membuat radang di benaknya. Namun bila Asem bersekongkol dengan maksudnya, perempuan itu merasa hidupnya tiba-tiba lebih berguna, seperti menghangat. Entah apa namanya tapi itulah kenyataannya. Ada kepuasan dalam kemenangannya itu.
Nila mendengus lagi. Bayangan Supariman menggoda kembali. Benci-benci kagum ia pada laki-laki botak itu. Kala mengingat yang begituan tak tau sebab perutnya tiba-tiba bergolak, mendesak angin ke dalamnya dan meneruskan mualnya menjadi muntah angin yang panjang. Kejadian itu bukan sekali, apakah lagi kalau sedang mentengkari Asem karena keras kepalanya.
Itu lagi! Dia ingat sekarang dengan soalan kemarin malam. Ya baru soal menghidupi anak sendiri Asem sudah apriori, tidak aristroktrat, belum lagi soal yang satu tadi?
“Bang!!! Pokoknya saya tak sudi ikut gaya purba kamu titik.”
“Lho kamu ini bagaimana Nila, saran saya kan baik?”
“Saran apa? Aku stres bang,” Nila tak lupa melempar gulingnya ke arah Asem, bibirnya menjadi miring-miring mencibir.
“Stres bagaimana? Nama itu bagus Nil, pilihan neneknya lagi.” “Abang ini kok gitu? Nama Georgia Linda juga bagus, dua kata yang harmonis. Kasihan si anak, kalau sudah besar dengan nama yang kurang aksen Bang. Kalau malas panjang-panjang, kita bisi panggil Jhorgy saja. Apa salahnya sedikit melongok ke depan demi anak?”
“Bagaimana kalau tiga nama itu kita undi saja?”
“Tidak bisa, tidak! Nama dariku tetap cita-citaku!”
“Jangan marah begitu sayang, semua masih ada jalan, bisa diatur, tenang-tenang saja dulu, kosongkan fikiranmu lalu kita tidur .”
“Aduh Abang, bicara sama Abang jadi gerah saya, Abang payah, tuh lihat Pak Pariman itu.” Rupanya Nila memuncak jengkelnya. Guling kapas itu direbutnya kembali dan dicekalnya kuat-kuat. Perut Asem hampir saja meledekkan sesuatu. Ya lucu, ya cemburu. Untung isi perutnya itu bisa dikendali. Hati-hati sekali dia membenarkan letak anak rambut Nila yang juga kusut seperti marahnya.
“Istirahatlah,” bujuknya. Di mata Asem hidung kecil Nila masih saja menggetarkan, kesan yang sama sejak kecan pertama dulu. Melayang dijentiknya lembut.
Astaga! Nila malah terisak.
“Abang kampungan, pengecut. Abang takut ya pada nama Georgia Linda ku? Takut kalau nama itu tidak dipanggil Tuhan waktu hari kiamat, gara-gara bukan nama Alquran? Ealah Tuhan enggak bodoh Bang. Tuh nama-nama dari Rusia itu bagaimana? Ya bahasa, ya pengertiannya sama saja kan? Aduh Abang ini buntung nalarnya, payah, belum lagi jadi orang kedua.”
“Iya ya, betul kamu Nil.” Asem cepat-cepat membenarkan dengan bijaknya.
“Semua bisa diatur,” sambung Asem lagi seolah ingin membuat titik besar sebagai penyelesaian persilatan lidah itu.
“Semua bisa diatur kata Abang? Abang lupa ya, kita banyak perbedaannya Bang. Dulu waktu pacaran Abang bilang kita harus berusaha menyamakan kebiasaan, sama-sama akan meninggalkan yang tidak cocok. Sekarang mana? Abang kejam!”
“Astaqrfirullah, apanya yang kejam Yang?” Asem mencoba menelan jengkelnya yang sudah sampai di lidah. Dia kapok. Pertengkaran malah jadi mentah kembali. Lalu apa artinya kesabarannya sejak tadi, kemarin, dan kemarinnya lagi? Hampir habis jurus laki-lakinya menangkis geram demi geram istrinya. Asem menelentangkan badan, berusaha mengatur napasnya satu-satu. Dalam hati sudah barang tentu membadai unek yang banyak. “Mati aku.” aduhnya sendiri.
“Coba Bang, Abang bilang saya juga boleh mengatur rumah, warnanya, ya macam-macamlah.”
“Sudahlah sayang, Abang yang salah.” Asem kembali mematahkan semangat pertempuran istri terkasihnya itu. Tapi Nila lain, tudingnya makin melompat kesana-kemari.
“Itu lagi. Aduh, aduh. Sudah saya bilang Bang, taman yang dominan rumputnya malah seperti stadion Bang, yang dinamislah. Hidup harus charming, exlusif.” Nila sampai ngos-ngosan melepas penyesak dadanya. Wajahnya mulai lembab oleh keringat. Bertambah gelisah ia. Udara seperti diam malam itu, kemarau tidak saja digilir musim tapi juga singgah di rumah Asem. Ya hampir dua bulan lalu bara itu menggerahi rumah tangganya. Asem senyum samar, jatuh di mata Nila yang sedang mempelototinya lekat-lekat.
“Nila, Nila, taman yang model itu kan mahal? Katamu lebih pahala menanam modal ke panti asuhan seperti cita-citamu dulu sebelum kita menikah,” Asem tergoda lagi menimpali gagasan-gagasan itu.
“Eh Bang, jangan salah. Taman juga penting. Mata perlu juga makan. Ya yang hijau-hijau itu. Ah, hijau itu cantik Bang. Cantik adalah hidup itu sendiri.”
“Oh iya ya, memang betul itu,” Asem buru-buru menyambar inspirasi Nila yang kian mengalir lagi. Asem cemas, jangan-jangan Nila mau membikin bicara jadi membanjiri kamauanya atau membuat ronde dan topik baru dari pertandingan itu. Sebab kalau membicarakan hidup sama artinya dengan menyoroti kefanaan. Mana mungkin sedangkan malam sudah setengah mereka geluti. Haruskah dini hari dan angin turut campur memaklumatkan pertikaian gado-gdo itu kepada khalayak jiran? Oho, tidak perlu,lebih parah lagi bila menyenggol cerita keluarga Supariman. Tokoh terpendam istrinya belum lama ini.
Tak ada cara lain. Apa boleh buat dan darurat. Asem mencoba menyodorkan inisiatif lain dari sekadar sahut menyahut yang tanpa ending itu. Dieratkannya Nila dalam dekap. Dia berusaha malam menjalar kembali di sekujur ranjang agar dapat melepaskan sesuatu dari kejangnya.
Sadar tak sadar, mau tak mau Asem harus tetap bersedia mengangguk terhadap ide-ide Nila. Ya, cara satu-satunya, jurus pamungkasnya terhadap serangan tajam Nila yang dipersuntingnya hampir satu tahun lalu. Paling tidak proses angguk mengangguk itu harus bertahan sampai bulan kesembilan mendatang. Mengertilah ia saat itu dan laborat juga memperkuat. Calon ayah dia rupanya, dan itu tak gampang. Ini tak seberapa. Tapi alangkah peliknya kalau Nila mengidamkan belanja ke bulan umpanya. Atau ngiler jadi istri Pak Supariman yang orang kedua itu.
Betul kalau dipikir-pikir, Asem lebih beruntung. Bersedia atau tidak ikut-ikutan dalam khayalan istrinya? Tinggal bilang ya, atau kalau ingin variasi katakan saja tidak, maka semua perbicangan akan berkembang sampai ke bulan. Itulah modal Asem menghadapi peristiwa ngidam itu. Satu kali saja sehari semalam, sudah minta ampun. Dituntut kesabaran memang. Ya, itu saja puncak kebijaksanaannya menjalani proses calon ayah.

(Banda Aceh, November 1991)

31/12/06

UANG MERAH

Cerpen : Nani HS

Asnawi mendekatiku dengan wajah cerah. Aku tak pasti kenapa teman lama yang sekarang sudah bekerja di kantorku itu, tampak ceria kali ini. Entah karena dia baru saja memangkas rambut potongan anak muda yang guntingannya ditipiskan di daerah atas telinga, atau karena kesumringahan itu memang datang dari dalam. Sanubarinya? Eh jangan-jangan lantaran dia baru memasang gigi atasnya yang ompong sejak lama itu? Tak tahulah aku. Yang jelas si sawo matang Asnawi , kini agak putih dan segar di mataku. Kumisnya yang masih hitam, lebih berkilau. Pokoknya lainlah. Tak bisa kujelaskan.

Dari jauh Asnawi sudah senyum-senyum. Pernah kata dia padaku, kalau dia senyum-senum, itu semata-mata hanya cara dia mengekspresikan kegembiraaan, dan rasa persahabatannya. Tidak untuk konpensasi, apalagi basa-basi.
Ia makin mendekatiku, layaknya orang yang hendak berbisik, sampai-sampai wajahnya dan wajahku hampir sepuluh centi meter saja. Heranku bertambah, tapi entah kenapa aku tak juga menarik mukaku menjauh dari mukannya.

“Begini… Saya ingin mengajak Nani makan siang. Saya ada sedikit rezeki hari ini. Tapi…”
“Tapi mentahnya saja kan?” selorohku kepadanya. Asnawi tersenyum lagi. Benar, dia merogoh saku kemeja kotak-kotak hijau pupusnya, lalu mengeluarkan lembar merah yang masih sangat licin lagi berbau uang baru. “Ya Tuhan, tiga lembar!,” kagetku dalam hati. Belum ada teman yang memberiku uang sebanyak itu. Subhanallah. Aku terkesiap, aku girang.

“Nih, cepat simpan, nanti dilihat orang,” sergah Asnawi dalam keterpanaanku.
“Aduh terima kasih Wi. Inilah rezeki saya hari ini rupanya. Nawi tahu? Bila kita melafalkan asma ‘ul husna, Yaa Malik, berturut-turut seratus dua puluh satu kali setiap pagi, kita akan dihargai orang secara wajar dan hidup kita berkecukupan. Inilah rezeki itu rupanya. Makasih ya,” kataku bernada gurau tapi tak bisa kusembunyikan perasaan haruku. Asnawi hampir saja menonjokku. Sebab aku dinilainya berlebihan. Ia terkekeh pun, dan aku merasa kata-kataku mungkin telah menyanjungnya. Senyum lagi dia, lebih cerah dari sebelumnya, lalu beranjak ke meja kerjanya yang tak seblok denganku.


Diam-diam ternyata aku merasa betul-betul aneh. Bagaimana tidak? Asnawi tak pernah seperti itu padaku. Kami tidak dekat selama ini, bahkan sangat irit bicara. Tiba-tiba keharuan melingkupiku. Kenapa Asnawi memilihku saat kelebih rezeki? Apa mungkin karena aku perempuan satu-satunya di kantor kami? Lagian dia bukan teman akrabku kan? Semisal Si Wedy, Si Desk, atau Si Bapak yang nyaris bagai saudara sendiri itu. Lalu kenapa Asnawi begitu royal padaku ya? Jangan-jangan…ah entahlah.

“Wah banyak juga rupiah Asnawi yang tak banyak cakap itu ya. Jangan-jangan rezekinya tadi berasal dari hasil kerja nonrutinitas, maksudku pendapatan sampingan? Masakan untuk makan siang saja ia membalenku tiga ratus ribu? Itukah cara Asnawi menjaga perasaanku agar tak tersinggung atau supaya kutak malu, sementara dia memang ingin menyedekahkan rupiahnya untukku, lalu mengatakan ingin mengajakku makan siang namun tak sempat ke luar mencari makan siang?

Kalau ya begitu, syukurlah. Asnawi telah menghormatiku sebagai perempuan yang tak selalu harus dikasihani. Dia telah memberi alasan yang tepat untuk bisa membagikan uangnya padaku. Aduh, tersanjung juga aku. Aku telah dilindungi secara perasaan.


Dari dudukku, serta-merta kuberdiri dan menoleh pada Asnawi, memastikan dia sedang apa. Ayah tiga anak itu, yang duduk membelakangi arah pandanganku, ternyata sedang berada di depan komputernya. Tak bisa kulihat mimiknya. Tersenyum lagikah, biasa-biasa saja, atau raut serius berkonsentrasi pada pekerjaannya? Ah, mudah-mudahan laki-laki yang selalu tak tahan dengan kelucuan itu memang sedang tekun pada pekerjaannya. Tidak memikirkanku, sepertiku terus memikirkan pemberiannya yang tak angin tak hujan itu.

Terus terang kejadian yang lumrah tadi justru terasa luar biasa bagiku. Menyusup hingga ke shalat Zuhurku siang itu. Entah kenapa dalam baris doaku, ada air mata di sana. “Allah sangat sayang padaku. Tetap ada saja rezeki bagiku di saat aku sedang pas-pasan. Ya Allah, inikah wujud zikirku itu Ya Allah. Benar atau tidak, banyak atau sedikit, kutetap syukur Ya Allah,” lagi-lagi airmataku jatuh ke mukena. Hari ini Asnawi menjadi “tangan”Mu Ya Allah. Tak seorang pun yang bisa menetukan nasib. Aku yang hari ini kantong kempes Engkau tetap menjagaku dari ketiadaan.


Meneruskan sisa kerjaku menjelang sore itu, pikiranku belum beralih dari pemberian kejutakan tadi. Menit itu juga kupustuskan untuk membeli sesuatu, agar menjadi tandamata. Bukankah aku sering berbuat begitu untuk mengabadikan sebuah pemberian menjadi kenangan? “Nanti akan kutunjukkan pada Asnawi agar dia merasa kuhargai,” janjiku dalam hati. Kendati aku sedang pas-pasan biarlah uang itu sebagian kubelanjakan. Ini pemberian yang mengejutkan.

Kala itu, kendati sudah pukul 18.00, tekadku sudah bulat. Aku harus ke kawasan Merduati. Ada toko barang-barang kerajinan Aceh di situ . Sungguh tepat keputusanku. Aku memang perlu stelan baju baru. Lagi pula minggu depan mau tak mau harus menenteng kado untuk saudaraku yang kenduri pernikahan. Jadi memang tepat ke toko itu.

Barang yang kuinginkan ada, toko pun sedang sepi, aku bisa leluasaan memilih dan mematut-matut belanjaan. Aku semangat sekali. Mungkin kalau ada orang memerhatikanku, kegirangan itu terpacak di wajahku. Mataku mengitari seluruh rak-rak bakal pakaian, sarung songket, tas, dan semuanya yang terpajang. Sayang aku cuma punya tiga ratus.Mau tak mau aku hanya dapat satu stel bakal pakaian saja.

Sempat juga aku menelepon adikku yang di kampung, dia setuju dengan pilihan warnaku. Satu stel bakal pakaian warna donker untuk kado, satu stel sarung songket keemasan plus bakal pakaian maroon bersulam songket Aceh stelan three pieces untuk diriku. Puas sekali aku. Ah, bermakna sekali uang pemberian Asnawi. Aku yakin, bila baju setelan itu jadi dan kuperliatkan pada Asnawi, tentu menjadi kejutan baginya. Setidak-tidaknya dia akan mengatakan, “Waduh! Jadi uang makan siang itu dibelikan baju?” Lalu Asnawi akan bilang, “Bagus, cocok kok warnanya untuk Nani,” Ya, pasti Asnawi setidak-tidaknya menilai bahwa yang namanya Nani, memang bisa menghargai pemberian orang lain. Gede rasaku itu tak tercegah lagi, sambil mendekap belanjaanku. Aroma khas kain baru diam-diam sempat kuhirup.


Kupandangi sekali lagi ketiga potong bahan pilihanku, sembari memantas-mantaskan warna dan sulamannya. Oh puasnya daku, tidak ragu lagi. Belum pernah selega ini. Niatku menyisakan uang itu sedikt batal sudah. “Beginilah perempuan, kalau sudah belanja lupa diri, konsumtif, tidak berpijak pada skala prioritas!” sindir hatiku sendiri. Malu hati juga sih. Tapi mau bilang apa, sudah terlanjur. Aku melangkah ke kasir.
“Sudah pas ini Pak, saya suka,” kataku sambil menyerahkan tiga lembar uang merah pemberian Asnawi dari dompetku. Aku berdiri di depan meja bayar. Tetap saja mataku tak puas memandang belanjaanku, sambil menanti uang kembalian. Suasana hening sejenak. Aku mendongak.

“Buk ini cuma tiga puluh ribu,” kata sang kasir yang menerima bayaranku.
“Hah Pak, astaghfirullah, astaghfirullah. Maaf Pak, maaf sekali, saya ceroboh, saya tidak lihat-lihat, maaf ya, maaf ya Pak” darahku terasa menyemburat ke wajah. Panas, aneh kurasa. Entah bagaimana ronaku kelihatannya. Matilah aku, malulah aku ini. Kenapa aku seteledor ini? Padahal ini sudah kali kedua kekonyolanku. Bulan lalu, aku juga silap di loket pembayaran listrik. Bedanya aku tak semalu kali ini. “Sebentar Pak,” kataku akhirnya. Sebisanya aku berusaha tenang menutup besarnya rasa maluku.
“Ah gak papa, biasa itu. Kita memang suka silap antara uang seratus ribu dengan sepuluh ribu. Mirip sekali kan Buk?” suara Si Bapak tenang, seolah ingin menyelamatkan mukaku yang terasa tebal sekali. Namun tetap tak berani kumeliat wajahnya lagi. “Iya Pak, “kataku.


Dengan debar kencang di dada, aku terus merogoh setiap lapis dompetku, tasku. Tak tahulah apakah lelaki separo baya di hadapanku melihat bagaimana risihnya dan repotnya aku. Yang jelas aku sudah berkeringat. Subhanallah, ketemu uangku, walau dalam bentuk receh. Ada uang lima ribu dan seribunya.
“Ini Pak. Barangnya untuk saya uangnya untuk Bapak ya. Maaf sekali lagi,” kataku..

Aku melangkah membawa jatuhnya air mukaku.. Di dompetku tinggal dua lembar ribuan saja. Perjalananku di rembang maghrib dan padatnya lalulintas Banda Aceh, sungguh tak nyaman. Sebentar-sebentar konsentrasiku pecah. Kejadian ini cukup sekian, jangan terulang lagi, dan Asnawi pun tak boleh tahu. Kalau Asnawi bakal terkesima dengan baju baruku nanti, syukurlah. Tapi dia tak boleh tahu cerita tiga lembar uang merah itu. Ini musibah, terhadap harga diri, kecerobohan, dan ketololanku.

Serambinews room
Banda Aceh, Desember 2006.

30/09/05

AYAHKU

Cerpen : Nani.HS

“Hebat sekali, satu keluarga sudah membenci saya! Bayangkan, istri sendiri sudah dua tahun tak peduli. Anak laki satu-satunya yang bisa dipercaya, sekarang menggubris pun tidak. Nampaknya kita sudah diguna-guna keluarga ibumu nak. Hebat betul gendang sebelah sana itu. Bukan main, terus menerus pengaruh ditiupnya, sampai-sampai ibumu, adik-adikmu tak menyukai saya lagi. Herannya anak kecil pun sama. Cucu-cucuku ikut-ikutan,” keluh ayahku sambil terisak begitu kami membuka pembicaraan.
Sebenarnya merasa bersalah juga aku. Sama sekali tak bermaksud bicara ke arah kegelisahannya itu lagi. Sebab kemarin, kemarin dulu, kemarinnya lagi aku juga mendengar uneg-uneg yang sama. Hari ini saja sudah dua kali aku dengar. Mending tadi pagi karena ke kantor aku bisa menghindar pembicaraan yang tak sedap dan berat sebelah itu. Namun malam-malam seperti ini rasa tak etis kalau aku tak menemaninya bicara. Kendati aku sangat lelah, tak tega rasanya buru-buru beranjak tidur. Biarlah, kapan lagi aku duduk di sampingnya, memijat lututnya yang mulai ngilu-ngilu? Atau kapan lagi aku menyuapnya? Bukankah kalau kubiarkan ayahku menyuap sendiri , sendoknya malah nyasar ke hidung atau nasi bertumpahan? Bukankah mata kanan ayah sama sekali tak berfungsi lagi? Bagaimana mungkin mengadalkan mata kiri yang hanya menghadirkan bayang benda baginya? Selama bersamaku biarlah dia makan disulang sendok. Toh di kampung dia kembali menyuap dengan tangannya sendiri. Bukankah seminggu lagi ayah kembali ke kampung halaman kami, nun hampir empat ratus kilometer dari rumahku. Siapa tahu inilah kali terakhir kami bertemu. Kalau bukan aku yang duluan pergi, maka ayahlah yang akan menghadap-Nya duluan.

“Cobak bayangkan! Itu Si Hafsah, sepupumu itu, berani-beraninya dia memarahi saya. Dia kan sudah saya anggap anak sendiri. Kamu ingat waktu dia kuliah? Tinggalnya kan di rumah kita. Sampai hati dia membentak saya, waktu saya katakan ibumu tak membolehkan lagi saya tidur di kamar kami. Apa dia jawab cobak. ‘Alah. sudah tua pun masih mau tidur sama istri! Manja!’ Lho, memangnya ayahmu ini mau ngapain? Saya sudah tanya sama ustad tetangga kita di kampung, Islam tak pernah melarang suami istri tidur sekamar biarpun sudah tua kok,” keluh ayahku lagi dengan suara yang tidak kecil, sebab pendengarannya memang sudah tak pas.
Aduh tak enak perasaanku. Lumayan membahana sih suara ayah, apalagi rumah kami yang terhitung dalam kampung, yang pada lepas magrib saja sudah sunyi.. Deg-degan aku jadinya. Cemas kalau terdengar tetangga yang memang gemar nguping. Kalau sudah begitu aku segera membuka topik lain. Aku pilih cerita masa kecilnya yang juga sudah pernah kudengar.
“Wah masa kecil ayah menyedihkan. Ayah tak kenal kakekmu. Ayah dipelihara nenek ayah. Nenekmu sih ada, tapi menikah lagi, setelah kakekmu meninggal. Tapi suaminya tak mengizinkan ayah tinggal dengan dia. Suatu kali ada hulu balang yang meminta ayah tinggal di rumahnya. Kerja ayah memang tak berat. Memandikan kuda, membersihkan halaman, dan kalau malam disuruh mengaji. Hulu balang suka dengan irama bacaan ayah. Tapi itu cuma tiga bulan saja. Suatu kali hulu balang pergi ke Hari Pekan. Ayah belum sempat sarapan ketika disuruh istrinya mencabut rumput di halaman. Mata hari sudah tinggi juga saat perut mulai keroncongan. Lama-kelamaan ayah pusing sekali. Barangkali ayah pingsan. Entah kapan Ayah sudah di tempat tidur. Samar-samar sempat ayah dengar hulu balang memarahi istrinya. ‘Kenapa disiruh kerja di terik matahari?’ begitu suara keras hulu balang yang ayah dengar. Walau dibela seperti itu, toh ayah sedih sekali waktu itu, ingat nenekmu, ingat almarhum kakekmu. Kenapa hidup ayah terus sedih?” Ayah mengakhiri kalimatnya, suara ayahku parau lagi, terisak lagi.

Lagi-lagi, aku merasa bersalah. Agaknya aku tak berhasil menoreh rasa gelinya atau sekadar senyumnya lewat obrolan kami. Aku terdiam dan terus memijat punggungnya yang katanya sedang berangin. “Yah, hari sudah malam. Sekarang ayah wudhuk lalu shalat Isya ya,” kataku akhirnya sembari memberikan radio kesayangannya, yang selama ini suka dikomplen suami dan anakku, karena setelan suaranya yang keras dan tak lazim di rumah kami.
Aku tetap menyelimuti ayah, menyediakan makanan kecil, plus sebotol air mineral, persis dekat bantal kepalanya. Seperti biasa pula aku mengikatkan haduk kecil di kepalanya, setelah seluruh kepala dibalur minyak kayu putih atau balsem pedas yang sejak dulu difanatikinya. Saat-saat begitu ayah selalu menolak kumanjakan. Tapi diam-dia aku sadar sekali, dia menikmatinya. Ayah bahkan tak tahu kapan aku beranjak dari menunggunya terlelap.
Tiga hari lalu orangtua kandungku itu nyenyak dalam remangnya kamar. Mulai kemarin malam tidak. Aku memang harus menutup pintu kamar tidurnya. Tak lain sebagai meredam brisik suara radio yang boleh jadi bakal disetel tengah malam untuk memantau siaran dari Arab sana. Bisa jadi distel lepas Subuh untuk mendengar siaran rohani radio lokal.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Bukan lantaran malas. Takut dia salah sangka pada setiap komentarku, itu saja. Diam-diam aku duduk di depan pintu kamarnya, sambil memenjamkan mata.
Memutar kembali rekaman masa kecilku. Yang katahu, ayah lelaki pendiam., tak pernah memukul anaknya, tak pernah bersuara keras, yang selalu membawakan oleh-oleh saban pulang dari manapun, yang paling marah kalau ada yang menggangguku selagi makan, yang tak pernah membeda-bedakan anak-anaknya, yang selalu
mengalah bila ibuku ngomel. Ayahku yang sederhana. Ayahku yang tak pernah menjadi berada kendati lima belas tahun duduk di biro perlengkapan instansi pajak. Ayahku yang penyabar, yang pernah menjadi imam meunasah.

Tiba-tiba rasa nyaman menggayutiku, manakala membayangkan berada di pangkuan ayah sembari mendengar dia mengaji atau cerita masa penjajahan Jepang. Aku juga terkenang-kenang tatkala kepalaku yang pusing dipijatnya sambil membacakan surah-surah pendek lalu aku tertidur. Ah, indahnya dibonceng bersepeda pergi berhari raya berkilo-kilo meter jauhnya. Pun girangnya aku waktu dibelikan balon panjang yang dipilin seperti rambut dikepang, gula tarik, es lilin. Atau gula-gula merah menyala berbentuk burung, ada juga kembang gula yang di Aceh waktu itu dikenal dengan sutra manis. Iya, aku masih ingat pita merah jambu, rok kembang, dan selop lili biru donker hadiah ayahku waktu tugas ke Medan, Sumatera Utara.
Airmataku menitik. Sekarang dimana ayahku? Yang dikamar itukah? Yang telah renta? Yang tak sanggup kumanjakan dengan materikah?
Pipiku basah. Aku bangkit dari depan kamar. Samar-samar ada dengkur ayah. Aku pun menumpahkan semua rasa di sajadah. Hanya itu yang kubisa, bagi diriku, bagi ayahku.

(Banda Aceh, Medio September 2005)



08/12/04

BAPAK

Cerita Pendek · 

SERAMBI INDONESIA 07/12/2004 10:30 WIB

[ penulis: Nani HS ]

“Segera pulang hari ini juga. penting.” Werr, dadaku. Dada suamiku. dada kami semua. Kabar kabur lewat telegram yang menukikkan sakit ke ubun, merapuhkan ketegaran. Lebih mengguncang, daripada mendengar kabar yang sesungguhnya, sekalipun duka.

Aku paling tidak bisa dikejutkan seperti itu. Kecuali langsung mual, aku bisa ke wc saat itu juga. Kesal aku. Apa maunya mereka itu? Berita kok kabur. Memang kami saudara-saudaranya ini punya seribu jantung yang boleh dipacu semena-mena? Bok ya bikin telegram yang jelas sedikit, jangan memuat sejuta pertanyaan begitu.

Memangnya kami tak punya iman bila mendengar taqdir yang sebenarnya? Kabar orang sekarat sekalipun kendati sangat mendebarkan toh akan lain rasanya, bila diberitahu secara transparan dan hati-hati. Bukan disodori kecemasan begini. Ini bukan lelucon, kejutan, apapun namanya buat berseloroh.
Ada apa di kampung? Ada yang ditangkap? Atau bapak barangkali? Bapak sakit parah? Tapi kabar tiga hari lalu bapak masih bugar-bugar saja.

Malah bapak mengirim manisan asam jawa kesayanganku, tak lupa sebakul salam kasihnya melalui tetanggaku, Makcik Salam. Bayangan ketuaannya langsung saja berkelebat dalam benakku. Apakah sekarang bapak harus menjalani fungsi akhir raga tipisnya? Tak, lebih sebagai onggok kenangan buat anak cucu?
Ah tidak. Ketuaan bukan ukuran kematian yang segera.

Bila masanya, kematian bisa menjemput kapanpun, kepada siapapun, termasuk yang masih orok. Namun ketuaan bapak memang menggundahkanku sejak lama. Kerena ketuaan itu pula aku tak sampai hati mengurut betisnya yang nyaris tak berdaging, kepalanya, keningnya saat diopname bulan lalu.

Waktu itu antara prihatin dan kerelaanku teraduk-aduk. Kesanku memang beda dengan apa yang dirasakan bapak. Rasaku gebalau, rasa bapak kemillau dengan percaya diri yang tinggi. Dia paling tak suka dibantu atau dicemasi bolak-balik dari kampung dengan sepeda motor, misalnya. tapi aku selalu dag dig dug kalau dia sudah bepergian.

Kalau dia bicara padaku, bukan main. Rada “genit” juga bila tengah hanyut dengan masa lalunya yang enerjik dan berdisplin tinggi. Selalu terkesan menyindir santainya anak sekarang. Apalagi nafsi-nafsinya. Wah bukan main, di belakangku dia sempat memujiku sebagai menantu satu-satunya yang tahu diri. Selalu hormat meski berhadapan dengan kumuh dirinya dalam sakit. Anaknya yang lebih setengah lusinpun tak becus mengurusinya. Ya jijik, malas, ngomel capek lah.

Tapi bukan lantaran pujian itu aku jatuh sayang pada sang mertua. Tak bisa kujelaskan bagaimana akurnya hubungan batin kami. Mau tak mau ada kekosongan yang saling terisi. Aku tahu, itu bukan cinta, kecuali sekadar rasa persahabatan. Mungkin lantaran kami sama bermasalah. Yang satu kehilangan pamor di tengah-tengah keluarga. Sedang aku babak belur dengan persoalanku yang butuh seseorang tempat mencurah rasa, selain suamiku.

Oh Bapak, akankah aku tidak sempat menyaksikan lagi kamu datang dari kampung naik honda, lengkap dengan segala macam oleh-oleh yang kau ikat di hampir seluruh tubuh motor hadiah undian dari tabunganmu di bank daerah itu?
Bapakku sayang, ada apa? Penyakit darah manismu kambuh lagi? Itulah, engkau tak bisa lepas dari kopimu. Tak perduli walau sedang kehabisan sakarinmu. Aduh bapak bagaimana dengan hypertensi-mu bapak? Mengingat itu airmataku meleleh juga.

Konon mengingat ketabahannya kala sakit. Mengingat kami sering masak bersama-sama makanan kesayang kami. Mengingat dia selalu duduk di bagian kepalaku, bila menunggu aku sakit. Aduh, sumpah mati aku sayang mertuaku itu. Akulah yang masih bisa memaklumi kebiasaannya yang nyaris kembali ke tabiat anak-anak. Dengan aku pula yang bernama Syamaun Nyak Syeh itu mau bercerita soal kaki cacatnya, gara-gara suatu wabah penyakit waktu perang Cumbok.

Lalu dia bisa terkekeh bila mengulang soal kuntilanak yang pernah mengganggunya ketika masih menjabat mantri kepala di sebuah rumah sakit kabupaten. “Jangankan kuntilanak, bapak pernah tidur dengan mayat. Habis, tidur di sal berisik sekali, bapak tak bisa pulas, makanya bapak pilih tidur dengan mayat,” mertuaku tambah terkekeh sampai seluruh gigi palsunya jelas berjajar. Dan “kegenitan” itu tak pernah dicuatkannya dengan orang lain, bahkan dengan anaknya sendiri.

Laki-laki itupun pernah juga membeberkan kisah masa kecil suamiku yang diperlakukan sebagai bos yunior oleh para bawahannya, di rumah sakit. Tak lupa, bagaimana suamiku minta sambal terasi, padahal waktu itu ia sedang kena muntah berak. Begitupun suamiku dimanja para perawat. Seringkali membuatkan es di kulkas rumah sakit, khusus untuk suamiku. Kalau sudah bercerita, aku dan bapak bukan main rileksnya. Tapi tunggu, tunggu dulu! Sekitar dua bulan lalu, tiba-tiba bapak minta kawin lagi dengan Nyak Maneh yang kurang pas pikirannya.

Itukah pertanda bapak hendak meninggalkan perangai? Memang aku sempat terbahak mendengar cerita tukang cuciku waktu itu. Aku menganggapnya seloroh. Masa iya sih kakek-kakek mau menikahi gadis dua puluhan. Lagi pula bapak tak punya sifat Don Yuan. Oh bapak, jangan pergi dulu. Tidak, masih banyak anekdot yang belum kudengar darimu bapak. Benarkah mudikku bulan lalu bulannya perpisahan kami?

Ya Tuhan, lepas magrib tadi iparku yang anak perempuan kesayangannya begitu gelisah, kendati ibu beranak tiga itu paling gengsi dengan kecengengan. Aku juga melihat geliat gelisah dan pucat di wajah itu. Diapun sempat mengira kalau-kalau telegram itu sinyal berpulangnya bapak.
Suamiku yang arif memadamkan kesuhahanku, gebalauku, kendati berpeluh juga wajahnya. Hilang kata-katanya.

Mungkin tak saja mempersoalkan bakal kehilangan orangtua. Bagaimana dengan ongkos berangkat atau masalahku yang pemabuk darat dan selalu butuh ini itu sebagai penangkal muntah. Namun bagaimanpun kami memang harus pulang. Kuminum obat antimabuk, kupasang koyo cabe, persis menutup pesarku. Aku harus kuat untuk berangkat. Ini masalah kasih sayang, kesetiaan, rasa hormat, kemanusian, dan martabat keluarga.

Kalau tidak, esok lusa bisa merambat jadi penyesalan.
Tidak. Bapak tidak akan meninggalkan kami sekarang, kata hatiku. Semoga belum terlambat. Bapak masih diperlukan. Bapak belum boleh berhenti bernostalgia, menerawangi simbol masa lalu yang menggairahkan. Sungguh laki-laki loyal plus tak banyak bicara yang disegani warga sekampung.

Bapak mantri yang mujarab, yang mau naik sepeda berkilo meter untuk pasiennya, yang banyak menolong orang papa. Kemahiran babak membuat aquades, sering dipakai rumah sakit bila kehabisan stok, yang masa itu sulit didapatkan, terlebih kalau terjadi kasus endemi tertentu. Pokonya bapak sosok teladan.
“Cepatlah!” Bentak suamiku, ketika aku siap tak siap mengemasi keperluan berangkat.

“Sebentar Bang. Yasin dan mukenaku ketinggalan nih,” kataku dengan nada kusabar-sabarkan, kelembut-lembutkan.
“Memangnya bawaanmu itu barang langka, di kampung kan ada?” Bentakan itu menjadi lebih kuat. Suamiku yang sejak tadi berusaha menyembunyikan kegelisahan, kiranya lepas kontrol juga.

“Bukan begitu, barang kecil kan diurus sendiri. Kalau rumah sedang ramai mencari bantalpun sulit kok,” jawabanku begitu saja. Entah dari mana, firasat burukku tentang babak tak bisa ditawar lagi. Benar, lututku semakin bergetar juga saat di rumah adik kami, Ibrahim. Tempat kami, anak dan para menantu berkumpul untuk berangkat bareng.

Tak tahu pertanda apa, tapi ipar perempuanku yang membawa kabar dari rumah ke rumahpun sekarang digilir celaka pula. Gawat juga kondisinya. Sibuk-sibuk lalulintas magrib mengkaparkannya tak sadar diri, setelah disenggol beca di tikungan menanjak menuju rumah Ibrahim. Guncang hatiku. Duh, jatuh ditimpa tangga pula.

“Bagaimana Din,” tanyaku pada kemanakan yang datang dari rumah sakit. “Cek Miswani sudah sadar dan mau kemari, gak papa. Tadi dia sempat menggigau soal kakek. Tadi sebelum kecelakaan, sebenarnya cek Mis bilang kakek sudah meninggal. Entah darimana dia tau?” “Hah? Din, kakek meninggal?” Setelah sekali terjerit aku pingsan rupanya. Aku baru menangis lagi ketika tersengat bau aude cologne.

lronisnya ketegaran ragaku malah membaik dalam perjalanan seratusan kilometer ke kampungku. Seperti juga lima kemanakanku tak saling rewel. Atau barangkali para bocah sama tercekam seperti enam kami orangtuanya?
Benar atau tidak, yang kutau hanya terdengar deru bus jarak jauh, berbaur dengan sayup angin gunung, basah mataku, dan bisu suamiku.

Kegelisahan bagai tak berujung. Mengalir juga ke tangan suamiku yang tanpa lelah mengurut dahi, jemariku yang kaku dan ngilu oleh mual yang datang. Membuat jarak kampung bagai berlipat ganda. Bahkan ketika kami sudah berada di becak dayung. Hanya derit tiga rodanya dan udara menjelang subuh saja yang bicara. Itupun seperti mengganggu dan menggidikkan bulu roma.

Belum lagi berada di lorong-lorong kampung kami yang terlampu redup, belukar yang menyemaki deret perumahan yang tak elok. Bunyi gesekan daun bambu dan bau kotoran sapi menggenapkan rasa mencekam kami. Persis pukul lima dini hari becakku sampai di gerbang rumah kami. Kulihat lampu teras tak berneon lagi dan berganti pijar sepuluh watt. Sedaun jendela dan pintupun tak terkuak. Serem sekali kurasa. Bagaimana mungkin rumah kami sesunyi itu.

Apalagi dalam cuaca kemalangan. Kenduri kecil-kecilan yang merebahkan satu ayam sajapun tidak ada? Seharusnya rumah tua kami bertamu lumayan banyak, karena kami memang keluarga besar. Aku terpana di ujung halaman. Betapapun sejak tadi seperti ingin terbang cepat-cepat mau ketemu bapak, berat juga langkahku sekarang. Terus terang aku terkadang penakut. Becak lainnya masih puluhan meter di belakangku. Aku belum berani masuk pintu halaman.

Ketika becak lainnya menyusul satu-satu, ada semacam rasa kelu dan entah apa namanya. Kami semua sesaat bagai terpacak di halaman, seolah perasaan kami sama. Suamiku lalu berada di depan dengan dua kali ketukan di pintu. Tiba-tiba ada yang mengaroma di hidungku. Harum melati dan bunga melur di halaman terlalu tajam, bertambah datang pula kepengecutanku. Sekaligus saja aku ingin berada di tengah-tengah yang lain. Suamiku serta merta memegang leherku bagian belakang.

Dia tahu betul, kalau sedang ketakutan, leherku harus dipegang. Begitupun berkurang rasa takutku, bila berjalan di tengah barisan, tak ke muka dan tak ke kebelakang. “Mak,” sergahku. Kusalami ibu mertua sebagaimana adat istiadat. Seperti biasa masih ada peluk cium. Kali ini mamak tak menangis lagi. Namun jelas garis mukanya keras dan kelu.

“Bapak?”
“Ada,” sahut mamak langsung mengamit lengan suamiku diekori dua saudara iparku yang lain menuju tempat tersudut dan tersuram di rumah kami. Kudengar mamak bisik-bisik. Kami yang menantu perempuan cukup terpojok di sudut lain. Antara tertanya-tanya dan sungkan bicara. “Macam-macam saja!” Suara suamiku tak sebiasanya. Dia marah.
“Jangan beginilah caranya. Siapa yang bikin telegram?” kulihat tinju suamiku kian membulat.

“Saya sampai tak minta izin di kantor. Itu si Miswani ditabrak becak, untung tidak kenapa-kenapa. Muka anaknya tergores batu. Mestinya kami yang laki-laki kan yang menerima berita, jangan dia yang jantungan itu?” suara suamiku makin tak enak didengar, dan bergegas ke kantor telepon untuk mengabarkan kondisi bapak pada Miswani.

“Huh, macam-macam saja, kasak kusuk tak menentu,” balas Ibrahim iparku, nyaris memecahkan Subuh, apalagi setelah tau kalau tadi sore tetua kampung sampai datang ke rumah.
Ibu mertuaku terkesima. Hilang keahlian berkilahnya. Surat dari Kuakec di tangan suamiku, diraihnya kembali.

“Dimana bapak mak?” Ulangku. Tak menunggu jawaban kucoba saja menuju kamar bapak. Di sana, bapak terbujur. Ah masih ada denyut di dada, bahkan nafasnya keluar teratur, sedikit mengorok. Kupegang dahinya kuselimuti dia. Dahinya pun tak panas seperti orang demam. “Bacalah ini.” kata ibu mertuaku. Cermat-cermat kuamati surat secarik yang jadi sumber debaran. Surat itu dari KUA yang harus ditandatangani mamak. Bapak mau menceraikan mamak? Sekelebat rasa heranku datang.

Jadi betul seperti cerita lelaki itu padaku, tentang kecemburuannya pada mamak, yang ditudingnya main serong? Tapi toh mamak sama rentanya dengan dia? Apa betul bapak sangat tertekan dengan omelan mamak selama ini? Yang kutahu, bapakpun terkadang subhanallah rewelnya. Oh bapak, semua curhatmu padaku benarkah adanya? Atau memang sudah tua jiwa raga engkau sekarang? Inikah isyarat awal datangnya keuzuran? Entahlah, aku hanya terhenyak. Tak ada lagi rasa humorku dini hari itu.

Esok pagi mungkin saja aku terpingkal kegelian, atau malah jengkel sampai mangkel memaki si pengirim telegram yang tak pakai pikiran itu? Yang kutahu aku sangat letih, untuk cuci muka ke sumur pun aku tak kuat lagi. Aku hanya sanggup menggeletak di ruang keluarga, dimana kami sering tidur kakak beradik, anak pinak, bila mudik Lebaran. Sebelum lelap, sempat aku gundah, tadi berangkat tanpa pamit, bagaimana besok berhadapan dengan bosku yang galak di kantor? Apa pula yang harus kukatakan pada bapak?

*)