Tampilkan postingan dengan label TULISAN NANI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TULISAN NANI. Tampilkan semua postingan

04/03/14

KOMENTARI KASUS PENEMBAKAN, PENDENGAR SERAMBI FM MENANGIS

Penembakan di Aceh

Serambi Indonesia / Senin, 3 Maret 2014 14:57 WIB

Laporan : Nani HS | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Beragam peristiwa kekerasan yang terjadi di Aceh menjelang Pemilu 2014, tidak hanya mengkhawatirkan kalangan politisi, tapi juga membangkitkan kembali trauma masa konflik.

Seorang pendengar Radio Serambi FM, Heri warga Blang Bintang, Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar, bahkan sampai menangis tersedu-sedu saat memberikan komentarnya melalui sambungan telepon, dalam Program Cakrawala yang membedah Salam Serambi, Senin (3/3/2014).

Usai mengucapkan innalillahi wainna ilaihi rajiun, Heri tak dapat lagi menahan rasa emosionalnya. Ia langsung menangis tersisak sembari berkomentar.

"Kami sebagai rakyat Aceh menangis dan melihat bangsa Aceh dijajah oleh bangsanya sendiri. Orang Aceh tidak ada lagi akhlak. Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah. Mana aparat keamanan untuk bisa mengambil senjata-senjata itu. Mari rakyat buka mata, buka telinga, dan melihat dengan mata. Ini kehancuran Aceh. Kita di dunia hanya sementara," keluh Heri sambil terisak-isak.

Selebihnya, suara Heri makin parau, dan di hampir sepuluh menit interaktifnya dengan Serambi FM, banyak kata-kanya tak begitu jelas terdengar. Suaranya begitu tenggelam dalam kedukaannya.

Ia benar-benar menagis tak terbendung. Kendati secara lahiriah kita tak melihat Heri, namun secara verbal/audio kita bisa membayangkan bagaimana air mata Heri berjatuhan.

Di ruang talkshow studio Serambi FM keharuan juga tampak di wajah Redaktur Harian Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika (narasumber), Dosi Alfian (presenter) dan Executive Serambi FM (Achyar Abdullah).

Selama hampir delapan tahun usia Serambi FM, baru kali ini seorang pendengar pria penelepon, berbicara sambil menangis terisak-isak. Kondisi ini menimbulkan komentar lanjutan dari sejumlah kalangan.

"Kalau seorang lelaki sudah menangis, dengan bersuara tersedu-sedu, bayangkanlah seberapa parah luka hatinya? Seberapa besar kekecewaannya?" tulis seorang ibu melalui pesan Blackberry kepada Serambinews.com.

Sementara pendengar yang lain, Sukma Hayati juga memberi komentarnya. "Sebenarnya masyarakat Aceh mulai kehilangan karakternya. Tidak lagi berpegang pada nilai-nilai dan norma agama nilai sosial. Sehingga di mata dunia kita bukan lagi terlihat hebat. Tapi jadi terlihat bodoh. Sikap-sikap tidak menghargai nyawa manusia kurang lebih seperti sikap Yahudi."

Cakrawala Serambi FM pagi tadi bertema, "Tak Bisakah Berpolitik tanpa Kekerasan?" Selain narasumber Yarmen Dinamika, berkomentar juga Direktur Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Sahlan Hanafiah.

Hari ini, Harian Serambi Indonesia juga menurunkan laporan peristiwa pemberondongan yang menewaskan seorang caleg Partai Nasional Aceh (PNA) di Kabupaten Aceh Selatan, malam tadi.

Sejauh ini, sejumlah peristiwa kekerasan yang menimpa kader dan simpatisan parpol peserta Pemilu telah memakan 2 korban tewas, sejumlah korban luka-luka, pemberondongan posko, serta pembakaran armada dan atribut milik caleg.



09/12/13

PUTROE SUZUKI DAN SALSA

Serambi Indonesia/Minggu, 8 Desember 2013 13:24 WIB

Dinda Rhesti Gandhis

KETIKA rentak Salsa ditarikan Dinda Rhesti Gandhis sampai pada puncaknya malam itu, ruang interior depan lantai I Suzuya Mall, Banda Aceh, yang padat pengunjung sejak sore, tiba-tiba gemeriuh membangun suasana bersemangat. “Dindaaa... Dindaaa,” teriak banyak orang, ditingkahi tepukan, plus minus one nan ngebeat.

Entahlah siapa mereka, atau mungkin juga supporter Dinda? Begitupun ketika penyanyi Aceh, Liza Aulia, mengitar-ngitari para finalis untuk menyerahkan hand bouquet (bunga tangan), terdengar lagi suara ramai, “Dinda...! Dinda! ...Dinda!” Audience seolah yakin betul bahwa Dindalah sang pemenang.

Terserah, mereka penonton sejati atau bukan, yang jelas menjelang pukul 22.00 WIB malam itu, Dinda yang disebut-sebut memiliki eye-catching (menarik perhatian), memang telah memarakkan acara Grand Final Putroe Gampong Suzuki, Sabtu (30/11), walau rinai hujan di luar mall terus jatuh.

Gaun paduan material rosela, shifon, dan tile, bermotif abstrak warna warni (rancangan Handaryati, Agung, dan Darmawan Satria), terkibas-kibaskan lewat langkah estetika Salsa yang diperagakan Dinda, telah menambah glamour acara.

Menurut Serambi, yang hadir sebagai seorang juri, Dinda memang pantas jadi “Putroe Gampong Suzuki 2013/2014”. Faktanya, Dara semampai ini punya nilai lebih. Ya soal product knowledge, universal knowledge, talent, penguasaan panggung, gesture, make up, fashionable. Lalu perempuan kuning langsat kelahiran Aceh Besar, 5 Januari 1992 ini pun, punya nilai dari segi public speaking, walau nilai CFIT 3A (Psikotes) Dinda, ada di golongan average (standar rata-rata) saja.

Selebihnya mahasiswi Prodi Kesenian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) ini, bisa menyanyi, menari, dan bisa pula mengaji berirama. Menari, nyanyi, fashion, modelling, tilawatil Quran, akting, memang sudah hobi Dinda sejak remaja. Tak heran, Si Sulung dari empat bersaudara ini, sudah malang-melingtang di berbagai kompetisi sejak 2005.

Namun di ajang pemilihan Putroe Gampong Suzuki, Dinda tidak merasa berada di jalan mulus. Dia sadar rivalnya berat-berat. Mereka memiliki apa yang tidak dimilikinya. Di situlah kebangkitan Dinda menyala, ia makin bersemangat.

“Semuanya semakin membuat saya termotivasi untuk lebih baik dari mereka. Sehingga saya yakin saya bisa lebih dari mereka, dengan kelebihan yang saya miliki. Saya tidak berpikir untuk menang. Tetapi saya ingin menampilkan yang terbaik di antara yang terbaik. Karena saya yakin apabila saya melakukan dengan baik, hasilnya juga baik,” ungkap Dinda.

Ada tugas baru menanti Dinda. Antara kuliah dan keterkaitannya sekarang dengan pihak PT Armada Jaya. Dinda pun menyusun rencana baru. “Saya akan memantapkan pengetahuan saya tentang Suzuki. Saya akan mempromosikan Suzuki kepada masyarakat Aceh. Saya pun harus bisa bekerja secara porposional dan profesional,” begitu janji Dinda.

- Nani.HS

prestasi:

* Juara Putroe Bungong (2009)
* Finalis Fashion Show Tingkat Nasional ACIBI, di Malang (2009)
* Juara I Fashion Show Retro Scopy Se-Aceh (2010)
* Juara II Fashion Show Honda Se-Aceh
* Penataan Ranup Terunik Se-Aceh (2010)
* Putri Yamaha Se-Aceh (2011)
* Foto Genik Miss Shoopi Marthin (2013)
* Juara III Ratu Kopi Se-Aceh (2012)
* Juara I Muslim Alegant Glamour Se-Aceh (2012)
* Juara I Muslim Glamour Se-Aceh (2012)
* Juara III MTQ Provinsi Aceh (2005)
* Model Workshop Vee Danito (2013)
* Model Workshop Sence of Colour Daniel Danoz dan Fajar Kritiono (2013)
* Model Workshop Daddy Baros, (2013)
* Model Vidio Clip Aceh
* Juara II Tari Kreasi Tigkat Provinsi (2009)
* Model Mata Lensa (ANTV) (2013)
* Model Reality Show (2010)
* Pembawa acara (Opening) TVRI

Editor: hasyim



02/12/13

LIZA AULIA, DI BALIK RIHON MEULAMBONG

Serambi Indonesia/Minggu, 1 Desember 2013 09:26 WIB

Liza Aulia

Meluncurnya Rihon Meulambong (RM) ke tengah-tengah masyarakat Aceh, bukan cerita baru. Para penggemar Liza Aulia, tahu persis bahwa RM adalah album teranyar penyanyi papan atas Aceh ini.

Tapi rupanya perampungan RM telah menoreh kisah di balik ‘layar’ yang berliku. Tak heran bila menyiapkan RM (yang memuat Pasang Jabet, Pho (Tari Pho), Adat, Meuranto, Reule, Di Babah Pinto, Beuingat, Makmeugang, dan Rihon Melambong), memakan waktu hampir sembilan bulan.

Setidaknya ada dua nomor RM yang cukup menyita waktu. Sebut saja yang satunya pembuatan clip Rihon Meulambong. Semata-mata untuk mendapatkan hasil gambar yang bagus, Liza harus syuting outdoor sampai tiga hari. Saat itu, September 2012, Liza sebenarnya sedang terserang influenza, apalagi di tengah cuaca pancaroba, dan sedang menebarnya penyakit ispa. Namun, berbekal semangat, untuk clip RM, Liza tetap tegar menunggang kuda di perbukitan hutan Jantho. Setidaknya gambar itulah yang Anda lihat dalam video compact disc (VCD) RM.

Lalu tahukah Anda? Baik Liza maupun kru Rihon Meulambong sempat repot harus menjinakkan kuda tunggangan yang belum terbiasa bersama penunggang yang masih asing. Tentu saja item ini pun, ikut melorotkan jadwal syuting, apalagi sebentar-sebentar break karena kondisi langit mendung. Untung saja pada hari kedua syuting RM, kesehatan Liza mulai membaik, dan nomor demi nomor RM akhirnya bisa rampung pada Juni 2013, hingga di-grand lounching di Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) beberapa waktu lalu.

Apa yang mampu membangun semangat Liza dalam penggarapan RM? “Saya harus menghargai penggemar saya. Secara karir menyanyi saya harus bertanggungjawab terhadap masyarakat penggemar saya,” tutur Liza kepada Serambi, di waktu jeda pementasannya pada malam final pemilihan Putroe Gampong Suzuki, di salah satu mall di Banda Aceh, Sabtu (30/11) malam.

Boleh jadi semangat itu sebagai bentuk jawaban Liza untuk semua pertanyaan penggemarnya di wall homepage FB Liza, yang dominan menanyakan kapan muncul album baru Liza, setelah merilis Kutiding.

Tentang keyakinan Liza bekerja ada juga yang berkomentar. “Saya salut dengan ketangguhan Liza sepanjang penyelesaian clip Rihon Meulambong. Dia bertanggung jawab kepada karirnya, termasuk tanggungjawabnya kepada publik. Ya, dia wonder women sih, tetap membela penggemarnya,” kata Ampon dari pihak manajemen RM.

Apapun kondisi Liza, selama dia masih memilih menjalankan karirnya, nyatanya ia tetap ada untuk penggemarnya. Seperti janjinya suatu hari pada tahun lalu, melalui Harian ini, bahwa ia akan terus bernyanyi untuk masyarakat Aceh, selama masih dipercaya, selama masih mendapat restu orang penting dalam hidupnya.

Yang jelas belakangan ini ada beberapa kesibukan Liza, selain mengurus Khansa Athifa Azalia dan Safa Alzena Azalia, dan show regulernya. Antara lain, mengisi sebuah acara, pada akhir Desember nanti. Artis Aceh yang pada 27 November lalu manggung di Gedung Kesenian Jakarta untuk Gelar Pesona Budaya Aceh ini, hanya menyatakan senang dan gembira, ketika Serambi menanyakan, bagaimana perasaannya sepanggung dengan sejumlah pesohor Tanah Air seperti Ryan, penata tari kelas nasional, dan penyair Fikar W Eda. Setelah itu tidak ada komentar lagi. Itulah ciri khas Liza, yang low profile, ditingkahi senyum tipisnya. Jelasnya, Liza memang bukan tipe banyak bicara.

Nani.HS




11/03/13

LIZA AULIA, MENYANYI DENGAN HATI

Serambinews.com / Minggu, 10 Maret 2013 11:06 WIB

KALIMAT bernyanyi dengan hati, sesungguhnya datang dari lelaki pendamping hidup Liza Aulia. Tiga kata dari Fahroel Muhadi, rupanya telah menyentuh perasaan perempuan kuning langsat dan berwajah tirus ini. Kata-kata itu juga yang telah menyemangati dan memberi kepercayaan dirinya setiap kali mau mentas. Semacam tenaga tambahanlah.

“Pesan itu diucapkan suami, ketika saya mau nyanyi di Auditorium RRI Banda Aceh, beberapa waktu lalu. Kebetulan suami saya bisa ke Banda Aceh dan ikut nonton. Lalu suami bilang, nyanyinya yang bagus ya, pakai hati,” ungkap pelantun single Kutiding ini, dalam suara kecil plus seperti biasa dengan gerak-gerik lemah-lembutnya. Namun tak bisa disembunyikan, dalam sinar mata Liza, tampak dia gembira dan bahagia dengan ucapan suaminya itu. Seperti ada ketenangan di sana.

Ketika pesan normatif tersebut dilafaskan, itu adalah salah satu momen yang berkesan bagi Liza. Dia mengaku betapa besar pengaruhnya bagi dia, bila sang suami, ikut berkomentar dan menonton pementasannya. Apalagi hanya sekali-kali Fahroel bisa datang ke Banda Aceh, karena tugasnya sebagai salah seorang Instruktur Akademi Militer (Akmil) Magelang, sangat menyita waktu.

Jauh terpisah oleh pulau dan lautan tersebut, nyatanya merupakan bagian dari hari-hari Liza selama berkarir nyanyi di Banda Aceh, kendati suasana tak lengkap itu, mampu terminimalisir karena dapat memboyong sang buah cinta (Khansa Athifa Azalia, 4 tahun, dan Safa Alzena Azalia, 3 tahun), selama rekaman atau membuat clip di Aceh.

Kesempatan dan jarak memang tak mudah bagi empat sekawan pimpinan Fahroel itu. Belum lagi kehilangan waktu bersama. Namun, sesuai kesepakatan bersama, Liza pun harus menjalani rumah tangga dan karir menyanyi berbarengan, seseimbang-seimbangnya. Agar semua tetap dalam bingkai kebaikan.

Karena kondisi jarak dan waktu itu pula, tak heranlah untuk menyelesaikan satu album saja butuh waktu lebih dari setahun. Album pertama Liza, Kutiding direkam tahun 2005, di-lounching tahun 2007. Tentu saja dengan semua kompleksitas mekanisme pengerjaan sebuah produk rekaman. Apalagi menginginkan hasil karya yang berkualitas.

Sekarang Liza sedang ‘repot’ dengan album kedua Rihoun Meulambong (rekaman tahun 2010) dan sedang divideoclipkan mulai tahun 2012, dan baru selesai lima lagu dari sebelas lagu (karya Yacob Samalanga, Taufik Opay, Mahrizal Ruby, termasuk nomor Beuingat dari album terdahulu) yang akan diluncur ke pasar. Tetapi, belum ada bocoran kapan pula Rihoun Meulambong siap lounching. Yang jelas, menurut produsernya, clip Rihoun Meulambong, lebih spesial dari Kutiding, baik dari segi gambar maupun audionya. Lokasi syutingnya pun lebih bervariasi.

Menurut Liza, pembuatan album kali ini memang tidak seperti album pertamanya. Secara fisik dan psikis, memang tidak mudah, karena harus bolak-balik Banda Aceh-Magelang. “Untunglah suami saya support dan pengertiannya sangat besar,” kata Liza dalam senyum tipisnya.

Dia berharap album Rihoun Meulambong, bisa diterima masyarakat. Liza menginginkan akan terus bernyanyi untuk masyarakat Aceh. Tentu selama dia masih dipercaya dan disukai karyanya, selama orang Aceh masih menyukai lagu Aceh, selama masih ada restu suami.

Selebihnya, sekali-kali Liza tampil untuk perkumpulan orang Aceh di Yogyakarta, plus tak lupa bersumbangsih untuk acara kantoran di mana sang suami berdinas. Menurut rencana, Minggu malam ini, Liza muncul untuk penggemarnya dalam suatu even di wilayah Utara Aceh. Jadi tak saja sibuk syuting clip Rihoun Meulambong di seputaran Lhoknga dan Jantho, Aceh Besar, tapi juga sempat menyapa pengagumnya di Lhokseumawe.

Nani.HS







29/01/13

MINI TRAVEL MART, SEBUAH CARA MENJUAL PARIWISATA ?

Serambi Indonesia/Jumat, 25 Januari 2013 08:56 Wib


SERAMBI/NANI HS
SUASANA acara Aceh/Medan Fam Trip Mini Travel Mart di Grand Ballroom Cititel Hotel Penang, Malaysia, Selasa (22/1) pukul 07.00-22.00 waktu Penang. Acara ini diikuti 18 orang (dari berbagai travel Medan) dan 14 dari Aceh, termasuk Firefly, pihak yang menerbangkan delegasi Aceh dan Medan.


PENGANTAR : Untuk ikut mengembangkan pariwisata Aceh-Penang dan sebaliknya, Firefly bekerja sama dengan Tourism Malaysia menerbangkan 18 travel agent Medan dan 14 travel agent Aceh ke Pulau Penang, Malaysia pada 21-23 Januari lalu. Wartawati Serambi Indonesia, Nani HS yang ikut dalam familiarization (fam) trip itu menuliskan catatannya dalam tiga tulisan, mulai hari ini.

LONCENG kecil keemasan yang dipegang seseorang di ujung panggung, berbunyi ting-ting-ting lagi. “Sudah tige minit, sile berputa lagi, sile diskas (Sudah tiga menit, silakan berputar lagi, silakan diskusi),” kata Master of Ceremony (MC) Aceh/Medan Fam Trip Mini Travel Mart di Grand Ballroom Cititel Hotel Penang, Malaysia, Selasa (22/1) malam.

Instruksi MC tersebut tak lain untuk “memindahkan” para buyers delegasi Aceh dan Medan dari meja ke meja para sellers Malaysia yang disusun dalam formasi persegi panjang. Suasananya seperti sebuah pasar. Hanya saja tidak seperti pasar tradisional. Di Mini Travel Mart ini semua peserta diharuskan berbusana resmi dan dianjurkan berbatik. Namanya saja ajang business to business alias B to B.

Bedanya lagi, tak ada transaksi langsung dalam bentuk uang antara konsumen dan produsen. Pedagangnya ada 26 (hotel, resor, rumah sakit, usaha hiburan petualangan/jelajah, dan travel dari Malaysia/Pulau Pinang). Pembelinya ada 18 (travel Medan) dan 14 travel Aceh, termasuk Firefly, pihak yang menerbangkan delegasi Aceh dan Medan.

Efektifkah Mini Travel Mart ini? Menurut Deputy Director Tourism Malaysia Penang, Logi Dhasan, taktik pemasaran pariwisata ini efektif sekali. Ajang kerja sama yang patut dipertahankan. Bila dilihat dari statistik wisatawan yang berkunjung ke Penang, baik via laut maupun udara, dari tahun ke tahun meningkat. “Ini penteng sekali. Inilah tempat perkenalan antara ejen dan perjoangan bisnes. Dalam lawatan ini nantinye mereke bise menjual paket. Ini meropakan jambatan usahe,” ungkap pria turunan Hindi berkulit hitam ini dalam tata bahasa Indonesia dialek Melayu.

Data dari Departement of Statistics Malaysia, prosentase kedatangan wisatawan dari Indonesia adalah 32,9% (2011) dan 32,6% (2012).

Dulunya (1997), ajang B to B ini bernama Mega Fam. Menurut Logi, sepanjang tahun lalu pihaknya telah menggelar “jembatan bisnis” tersebut dalam 20 sesi. Yang jelas, setiap ada agen yang datang ke Penang, selalu ada deal Fam Trip. Yang sering dari negara Eropa, Australia, Selandia Baru, dan Arab, terutama yang berminat terhadap  produk pelancongan, hotel, garden, wisata laut, dan gunung.

Lalu dari kacamata travel bagaimana? “Menurut saya, mini travel mart ini bagus sekali dan memang perlu. Selain kita lebih banyak peluang kerja sama, paling tidak kita bisa saling kenal dengan agen lain. Ini kan memudahkan usaha kita dan membuka wawasan dan inspirasi kitalah,” kata Manager Kembang Tour, Irfan Hasbi.

“Yang menariknya, ada seller yang menyediakan paket jadi, sehingga kita tidak susah-susah lagi bikin sendiri. Tinggal jual saja. Dalam menjual pariwisata kita patut tiru acara mini travel mart ini. Diperlukan juga dukungan pemerintah, agar kegiatan ini lancar,” timpal Manager Cendana Travel, Marbawi.

“Tapi menurut saya, jangan kita saja yang datang ke Penang. Nah, bagaimana caranya kita bisa jual Aceh yang potensial, Sabang misalnya. Pascatsunami, kita punya banyak destinasi. Ya, sebut saja Museum Tsumani, Kapal PLTD Apung. Saatnya kita ikut terus mengembangkan pariwisata Aceh. Saya kepingin sekali membawa pelancong luar ke Aceh. Paling tidak ya dari Penanglah,” ujar Tour Manager Grand Lentera Lestari, Yusnitawati.

Dari sisi bisnis penerbangan, Sales Executive Firefly Banda Aceh, Delfia Risa, mengatakan Firefly sengaja menerbangkan kalangan travel ke Penang. Tujuannya agar terjadi saling tukar informasi antara buyers dan sellers, dan saling mendatangkan wisatawan. Apalagi, dalam waktu dekat Firefly akan meluncurkan program penerbangan hariannya.

Ada hal yang patut kita adopsi dari acara Fam Trip bertajuk Program Lawatan Suaikenal, kerja sama Tourism Malaysia Medan dan Firefly Medan ini. Antara lain, kesiapan para sellers dalam menjual produk wisata. Bukan saja kemampuan presentasi produk, tapi juga kesiapan alat peraga seperti brosur yang luks dengan layout menarik, dan bukan pengumuman ala selembar kertas stensilan. Bahkan seperti Lam Wah Ee Hospital yang melengkapi taktik jualannya dengan sekeping VCD plus keramhtamahan sang Marketing Executive, Nurjannah Md Zain. Sama halnya dengan kecakapan mempresentasi plus senyum persahabatan Marketing Manager Island Hospital, Nora Hamid.

Hal lain yang boleh dilirik adalah produk Penang Homestay (dengan embel-embel; A sense of cultural treasures atau discover truly authentic, truly cultural Malaysia). Para wisatawan yang memilih paket ini, selain menginap di hotel, juga diberi kesempatan menginap di rumah-rumah penduduk, dengan segala rutinitas kampung di mana mereka menginap. Tinggal pilih, mau paket dua hari, tiga hari, dan seterusnya. Contoh, dalam paket 5 days 2 nights visit ada item Malay cuisine cooking demonstration (wisatawannya langsung praktik masak), begitu pula latihan membatik, permainan tradisional seperti gasing, cangkak, gandu, dan getah, yang justru tak pernah dilihat orang Eropa misalnya. Belakangan, Tourism Malaysia sudah melaksanakan paket wisata bersepeda pula untuk sepuluh destinasi wilayah Penang.

Lalu, tahukah Anda, Mini Travel Mart ala Tourism Malaysia dan Firefly ini? Ternyata telah menyambung silaturahmi antar-sellers dan buyers. Malam bertabur senyum tawa dan berbagai hidangan khas Melayu dan oriental pun, usai pukul 10.00 waktu Pulau Penang. Ada sellers yang langsung “ikat janji” dengan buyers-nya, ada yang perlu kesepakatan ulang.  So, mau meniru acara Mini Travel Mart, apa salahnya? 

(bersambung)

28/01/13

PESONA PASAR MALAM BUKIT PERINGGI

Fam Trip ke Penang
Serambi Indonesia/Sabtu, 26 Januari 2013 15:27 WIB

Salah satu kios di sepanjang jalan di Pasar Malam Bukit Peringgi, Penang, Malaysia. SERAMBI/NANI HS

Berita Terkait
Mini Travel Mart, Sebuah Cara Menjual Pariwisata?

KALAU singgah di Pasar Malam Bukit Peringgi, Pulau Pinang, pada Sabtu malam, bisa jadi Anda bergumam wow. Sebab, kawasan pariwisata pasar malam terkenal di Penang ini, dipadati wisatawan lokal dan domestik. Mobil dan sepeda motor hilir mudik memadati jalan, mengisi malam. Jajan, belanja oleh-oleh, dan jalan-jalan.

Tapi pada malam-malam biasa, seperti saat ketibaan kami, Senin (21/1) malam lalu, lalu lintasnya tidak sepi, tak juga ramai. “Nyan katrok u Saree (Nah, sudah tiba di Saree -red),” kelakar salah seorang peserta Program Lawatan Suaikenal (Fam Trip) Tourism Malaysia-Firefly (21-23/1). Barangkali, yang dia maksudkan adalah keramaian dan barisan kedai yang mirip kawasan Saree, Lembah Seulawah, Aceh Besar.

Perbandingan itu memang tidak tepat, karena kawasan Pasar Malam Bukit Peringgi lebih luas dan tidak mendaki. Tampak lampu-lampu hotel yang semarak, becak dayung berhias kembang plastik plus lampu warna-warni yang bersinar tajam (tarif becak 10-15 RM), dan lalu lalangnya para keluarga dengan anak-anak mereka, pria wanita yang rata-rata bule, serta pasangan-pasangan asal Arab yang satu dua perempuannya mengenakan cadar. Ada juga turunan India berkulit putih.

Menyaksikan itu semua, sangat terasa aroma wisatanya. Menyatu menjadi sebuah landscape yang “memanjakan” mata tertentu. Sepanjang jalan satu kilometer berjajar kios 2x3 meter yang memajang berbagai produk. Mulai dari pakaian, sandal, sepatu, hiasan ruang tamu, lukisan, aksesori, jam tangan, sampai pernak-pernik kecil buatan tangan dan mesin, siap memancing selera belanja.

Menariknya, tidak memasang harga mal pula, malah berlaku sistem tawar-menawar. Bisa jadi setengah harga, bahkan di bawah setengah harga. “Pandai-pandainya pembelilah. Tak perlu malu menawar. Di Bukit Peringgi ini memang sudah begitu kalau belanja, murahlah,” kata guide tour rombongan kami, Md Rosli bin Saaid.

Harga-harga di Pasar Malam Bukit Peringgi dimulai dari 10 RM untuk barang pernak-pernik, hingga ratusan ringgit, seperti harga sebuah lukisan atau produk-produk ukiran kayu, tas-tas wanita bermerek (tapi bukan original, hanya Kw 1).

Amatan Serambi, hampir satu jam, yang dipilih wisatawan Barat dan Arab, kebanyakan pernak-pernik etnik. Mungkin karena itu tidak ditemukan di negara mereka. Tak sedikit di antara mereka juga singgah ke counter barang dagangan Cina dan India. Terdengarlah taransaksi dalam bahasa Inggris nan cas cis cus. Namun, yang wisatawan Indonesia, janganlah bimbang soal bahasa. Melayu ada Inggris pun oke. Menurut Rosli, wisatawan dari Eropa dan Arablah yang paling banyak datang ke Bukit Peringgi. Selebihnya dari Singapura dan negara Asia lainnya.

Ada taste pariwisata di Pasar Malam Bukit Peringgi, kawasan tepi pantai Penang itu. Pedagang kaki limanya proaktif menjemput bola dan tak cemberut kalau tak jadi beli. Itu agaknya yang membuat pembelanja nyaman. “Di sini memang murah dan enak belanjanya, Bu. Ini kan pasar tradisional,” kata salah seorang wisatawan asal Aceh, Desi.

Kehadiran pedagang kaki lima dan hotel berbitang lima, misalnya, Seri Sayang Hotel dan Hard Rock Hotel, adalah warna malam Bukit Peringgi. Sepertinya Pemerintah Malaysia sengaja tidak menyandingkan mal dengan hotel bintang lima, tetapi tetap mengadopsi nilai tradisi, dengan deru angin laut yang tak jauh di belakang pasar. “Para pelancong, saya kira, lebih suka datang ke Penang daripada Malaysia, karena Penang lebih alami. Ya, lihat saja Pasar Malam Bukit Peringgi yang hanya dibuka malam hari. Pasar malam seperti ini hanya ada di Bukit Peringgi. Kawasan pantai lain di Penang, tidak ada,” kata Rosli yang nyaris lancar bahasa dan logat Indonesianya.

Manakala pukul 24.00, Pasar Malam Bukit Peringgi pun ditutup. Kalau wisatawan lokal kemungkinan langsung pulang ke rumah masing-masing, ya? Apalagi dari Penang Road (masih termasuk kawasan Kota Penang), Pasar Malam Bukit Peringgi ini jaraknya kurang dari 30 menit perjalanan pada kondisi lalu lintas lancar. Tapi ke mana wisatawan asing melanjutkan separuh malam lagi? “Ada yang balek ke hotel, ada yang ke pinggir laut sampai pagi, atau sekadar lewat lalu kembali,” ungkap Roslan. Iya ya, Penang kan kota pelancongan internasional. Tak heran Pasar Malam Bukit Peringgi ini telah masuk dalam Shopping Packages Penang. Nah, kalaupun bukan pasar malam, tapi apa mungkin ya, kita bangun pasar sore di pantai Sabang atau pantai Ulee Lheue, Banda Aceh, misalnya?

Nani.HS

27/01/13

PINANG PERANAKAN MANSION, SEKELUMIT SEJARAH

Fam Trip ke Penang
Serambi Indonesia/Minggu, 27 Januari 2013 08:27 WIB

SERAMBI/NANI HS
PEMANDANGAN di ruang tengah lantai I Penang Peranakan Mansion, Pulau Pinang, Malaysia. Penang Peranakan Mansion sebelum dijadikan museum, dulunya rumah Kapitan Cina bernama Chung Keng Kwee, yang dibangun tahun 1890-an, dan memiliki 1.000 benda bersejarah.

Berita Terkait
Mini Travel Mart, Sebuah Cara Menjual Pariwisata?
Pesona Pasar Malam Bukit Peringgi

KETIKA bus travel yang membawa rombongan Program Lawatan Suaikenal (Fam Trip) Tourism Malaysia-Firefly, 21-23 Januari 2013 masuk ke Jalan Gereja (Lebuh Gereja/Church Street) No 29.10200 Penang, Malaysia, langsung tour guide kami, Md Rosli bin Saaid, mengatakan, “Sekarang kita ke Peranakan Mansion ya.” “Lho, kita ke rumah bersalin maksudnya Pak?” tanya seseorang dalam bus, dan membuat gerrr penumpang lain.
Ternyata bukan rumah bersalin. Rosli lalu mengurai sejarah Pinang Peranakan Mansion. Nun abad 19, seorang Tionghoa datang ke Malaysia. Dialah Kapitan Cina bernama Chung Keng Kwee, seorang penambang timah hakka, dan pemimpin organisasi rahasia Hai San.

Ia diketahui menikah dengan perempuan pribumi. Waktu itu mereka dijuluki sebagai Mama-Baba, sebagai penurun kaum peranakan Cina-Malaysia. Inilah cikal bakal turunan Cina di Malaysia. Kabarnya Sang Kapitan tak kembali ke lagi ke istri pertamanya (dan seorang anak mereka) di Cina. “Nah, kita sudah sampai. Ini Pinang Peranakan Mansion, Rumah ini dibangun pada tahun 1890-an. Walaupun sudah direnovasi, arsitektur luar dalamnya sama seperti aslinya,” jelas Rosli. Rumah pusaka yang telah dijadikan museum ini, panel-panelnya terbuat dari kayu berukiran Cina, besi ukirnya gaya Skotlandia, ubin lantai dasarnya mengadopsi gaya Inggris).

Memasuki halaman Pinang Peranakan Mansion dua orang lelaki berseragam lengan pendek dan celana panjang warna hijau pupus menyapa kami dalam bahasa Inggris. Lalu menempelkan stiker bulat hijau dengan gambar hampir seperti kalpataru yang ditimpa tulisan Pinang Peranakan Mansion, di bahu kami. Seperti tertera di gerbang masuk, bersisian dengan foto-foto keluarga Chung Keng Kwee, dalam bingkai kaca ukuran hampir 1x2 meter.

Sebelum melangkah ke pintu masuk, kita seperti terseret ke masa silam, menemui bangunan khas Cina berpadu arsitektur Inggris. Menyaksikan ruang demi ruang Pinang Peranakan Mansion dengan segala isinya ini, bisa kita bayangkan, betapa kayanya Chung Keng Kwee waktu itu. Rumah hampir sebesar bangunan utama Pendopo Aceh tersebut, bagian dalamnya terbuat dari kayu berukir yang tinggi nilai estetikanya.

Gemerlap ruang tengah lantai dasar, kental khas Cinanya. Seperti di film-film kerajaan Cinalah. Dua tanaman bonsai tua kelihatan apik di dua sudut. Ruang tengah itu ada sekitar 4x4 meter, dikelilingi tiga ruang lain, yang masing-masing memuat berbagai koleksi pemilik rumah. Satu di antaranya dijadikan toko dengan aneka barang khas Cina yang diperjual-belikan. Misalnya buku-buku, pernak-pernik, bakal pakaian, dan souvenir seperti mangkuk.

Ruang lainnya berisi beberapa model mesin jahit kuno, baju cheongsam, kebaya Cina, sarung batik Cina, dan sebuah tempat tidur yang sangat tradisional Cina, baik dari segi model kelambunya, sarung bantal kepala, dan guling, maupun warna-warna tirai.

Di pojok lain, satu lemari setinggi dinding berisikan sandal sepatu tempo dulu, peranti dandan, perabotan tamu dan dapur seperti peralatan makan, bouvet, kopor, tas kerja (mungkin yang pernah dipakai keluarga Chung Keng Kwee).

Kita harus buka sepatu untuk naik ke lantai dua, melalui tangga kayu yang pegangannya padat ukiran. Antara lantai I dan II, kita tetap terhubung pandangan, karena ruang tengah tidak berplafon, hanya diberi pagar kayu ukir, layaknya arsitektur masjid. Di atas, ruang terbuka pertama di depan tangga, ditempati tiga lemari besar berisi aneka keramik. Antik, unik, dan tampak autentiknya. Kalau yang melihat kaum hawa, sudah pasti berdesis kagum. Barang-barang tipe maskulin, disusun dalam lamari lain. Putar ke kanan, terdapat kamera intip model kuno, hampir seukuran orang membungkuk. Setelah itu sebuah ruang besar dengan kursi-kursi antik dengan dinding bergantung foto-foto seukuran poster (Kapitan dan istrinya), dan foto hitam putih bingkai normal, memperlihatkan para perempuan dan laki-laki. Juga ada ruang tidurnya.

Kalau hendak menyimak detail semua benda yang ada di Pinang Peranakan Mansion, tentu tak bisa hanya setengah jam seperti kunjungan kami. Sebab di tempat bersejarah Cina itu, ada 1.000 jenis benda. Kalau tertarik datang sajalah, setiap pukul 09.30-05.00 sore. Yang jelas, dengan bekal uang masuk 10 RM per orang (anak di bawah 6 tahun gratis), kita sudah bisa menjelajah kekayaan budaya abad silam. Pinang Peranakan Mansion memang sebuah sejarah kehidupan. Paling tidak, bisa membaca lifestyle-nya seorang Kapitan Chung Keng Kwee. 

Nani.HS

20/01/13

PEREMPUAN BAGI PERADABAN

Serambi Indonesia / Sabtu, 19 Januari 2013 12:29 WIB


Bungong Meulu

SEJAK berdiri pada 19 Januari 2004, komunitas perempuan Yayasan Bungong Meulu (YBM), sudah konsen di bidang pemberdayaan perempuan. Segenap pengurus dan anggota yang seluruhnya perempuan, tetap berfokus pada peningkatan kualitas hidup perempuan.

“Pergerakan YBM menitikberatkan pada pembinaan, dengan melihat perempuan sebagai sosok unik, dan punya kemampuan luar biasa untuk menjadi kontributor bagi perubahan peradaban yang lebih baik, sesuai Alquran dan Sunnah, “kata Pembina YBM, Hj Rita Indahyati.

Menurut Rita, YBM mencoba mengimplementasikannya ke dalam kegiatan dakwah islamiah, pembinaan kesejahteraan ibu dan anak, serta pemberdayaan ekonomi perempuan. Kegiatan-kegiatan yang telah dan akan dilakukan YBM, tak lain adalah kegiatan yang berusaha mengintegralkan unsur ruh, jasad, dan akal dari seseorang, sehingga melahirkan sosok yang paham tentang Islam, memiliki kemampuan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan nyata.

Bulan dan tahun berganti, YBM terus berkiprah pada niatnya. Katakanlah kontrak tanggungjawab terhadap umat. Para pengurus inti, Yesi Budaya Sari SSi, Cut Dewi Zuliana SE, Cut Ridawati SE Ak, Evi Syahputri, Hayati Kausyarah SE, Susita SPd, Siti Sarah SPdI, Dewi Elfiani ST, Teti Saptawati, Nurlela SPd, bahu membahu dengan anggota lainnya meluncurkan kegiatan islaminya.

Beberapa program yang telah dijalankan, sebut saja, Pembinaan dan Kesejahteraan Ibu dan Anak dengan program Manajemen Hati (Kajian mengenai spiritual quotion, tahun 2004), dan Wisata Quran (paduan outbond dan pengkajian Al quran tahun 2004 dan 2007).

Juga ada Kajian Rutin Bulanan Baiti Jannati (Kajian Islam tentang pembentukan rumah tangga muslim seindah surga berasaskan sakinah, mawaddah warahmah, mulai Maret 2008 hingga saat ini setiap sebulan sekali.

Selain itu, YBM juga bergerak di bidang pendidikan dan dakwah, bahkan konsen pula di bidang pemberdayaan ekonomi. Pemberdayaan ekonomi dilakukan dengan membuka unit usaha toko pakaian serta unit usaha penanaman bibit bunga Resella. (Baca, Keluarga Samara hingga Bunga Rosella)

(nani hs)

Keluarga Samara sampai Bisnis Rosella

YBM juga melakukan pelatihan-pelatihan Calon Linto dan Dara Baro (Calinda) agar mereka mendapatkan pemahaman yang utuh tentang konsep pernikahan dalam Islam, sehingga dapat mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Acara itu digelar 18-19 Oktober 2008.

Juga ada Klinik Konsultasi Keluarga Samara (membantu pasangan suami istri menuju keluarga yang Islami), Program Sekolah Orang Tua (tahun 2009, Juli 2009, Juli 2010, Februari 2011), Live TalkShow Keluarga Bahagia Sejahtera Sakinah Mawaddah Warahmah di Radio Serambi 90,2 FM.

Di bidang Pendidikan dan Dakwah, antara lain YBM telah mendirikan tempat penitipan anak (hadhonah) Aneuk Meutuah sejak tahun 2004. Pelatihan Pengasuhan Anak (bimbingan tentang pengasuhan anak, terutama balita untuk para pengasuh hadhonah, wali anak, dan para pengurus yayasan.

Tak ketinggalan bidang pemberdayaan ekonomi, YBM sudah bekerjasama dengan Rumah Sandang membuka unit Usaha Toko Pakaian pada Januari-

Desember 2006, membuka usaha konveksi (2007), penanaman bibit bunga Rosella, dan penjualan Bunga Rosella sejak tahun 2008 di Lembah Seulawah, Aceh Besar, serta membuka unit usaha Rumah Rosella (Cafe Rosella).

Kalaulah, semua itu dikatakan sebagai buah jerih dari kepengurusan YBM, kesan apa yang dirasakan Rita Indahyati? “Teman-teman yang mau bergabung dalam yayasan ini adalah orang-orang yang hebat. Padahal mereka tidak digaji , bahkan seringkali mereka harus mengeluarkan infaq untuk berjalannya program-program yayasan, mengorbankan waktu, dan tenaga mereka. Semoga Allah SWT akan membalas semua kebaikan mereka dengan surga-Nya. Semoga keberadaan Yayasan Bungong Meulu akan semakin dirasakan keberadaannya , di tengah masyarakat, menjadi peloporkebaikan, menjadi produsen kebaikan,” kata Perempuan Pembina YBM itu. Ia berharap, semogalah YBM bisa menebar harum ukhrawinya, mengalir dengan tulus, ikhlas, dan bersih.

(nani hs)

Yesi, Setia Sampai Menikah

Sabtu, 19 Januari 2013 12:33 WIB
Berita Terkait
Perempuan Bagi Peradaban

PEREMPUAN ini rupanya masih setia dengan Yayasan Bungong Meulu (YBM). Berkiprah di YBM sejak ia masih gadis hingga kini setelah menikah, justru membuatnya makin energik mengurus YBM. Sekarang sampailah pada kursi ketua yayasan yang bercokol di Bilangan Lampriek, Banda Aceh.

Apa yang membuat perempuan bernama Yesi Budaya Sari SSi ini tetap bersumbangsih kepada YBM sejak 2008 sampai sekarang? “Saya menemukan orang-orang yang mempunyai tujuan, cita-cita, dan pemikiran yang sama, terhadap anak dan perempuan. Orang-orang YBM adalah inpirasi bagi saya, jika saya berkumpul dengan mereka, maka ide-ide untuk mengembangkan yayasan ini semakin besar. Yang jelas, hal besar tadi tidak terkikis oleh banyaknya rintangan yang dihadapi YBM,” ungkap Yesi.

Yesi, berniat akan melanjutkan kiprahnya di YBM. Sebab menurutnya, cita-

cita YBM untuk melayani masyarakat memenuhi kebutuhan spiritual yang islami, belumlah selesai. Yesi pun belum punya niat berpaling dari YBM, kendati telah punya kesibukan dalam berumah tangga.

Bagi Yesi, YBM seperti rumah sendiri. Katakanlah rumah keduanya. “Terus terang, persaudaraan sesama pengurus, dengan tujuan yang sama, memberikan kenyamanan tersendiri bagi saya dalam berorganisasi. Cita-

cita untuk menjadi orangtua saleh dalam mendidik anak pun, kian kuat terpatri menjadi azam di dalam hati saya,” tuturnya.

(nani hs)

Editor : hasyim








13/01/13

MAYA, RASANYA SEPERTI BERSAUDARA


Berita Terkait
Hijabers Community Aceh, Bukan Sekadar Estetika Pakaian

MEMBUAT keputusan bergabung, dengan Hijabers Community (HC) Aceh, awalnya karena ia terkesan karena kalangan HC Aceh punya ketertarikan sama diantara para anggotanya. Semua memiliki niat kuat menggunakan hijab sekaligus tidak menginggalkan nilai keindahannya. Islami, indah, dan modis. Nah, apa kesan Maya Safira Dahlan setelah bergabung dengan HC Aceh?

“Hingga saat ini, alhamdulilah tidak ada duka yang saya rasakan selama bergabung di HC Aceh. Saya nyaman dan terkesan dengan kebersamaan kami. Mungkin karena kami juga sudah seperti saudara, saling menghormati, mengingatkan, dan saling membantu, “ kata Maya, kepada Serambi, di News Room Serambi, Selasa (8/1) siang lalu.

Kendati kuantitas pertemuan pengurus dan anggota komunitas dalam acara tertentu, rata-rata satu bulan sekali, itu sudah membawa dampak pribadi terhadap Maya. Selama bergabung di HC Aceh, dia mengaku punya banyak kesempatan baik, dan bermanfaat. Baginya, HC Aceh adalah salah satu media silaturrahmi, berdiskusi seputar Islam, berbagi pengetahuan, dan bisa mengasah diri dalam berbagai kegiatan seperti pengajian, hijab class, dan bakti sosial. Itu semua, nyatanya telah memberikan kepuasan tersendiri bagi Maya.

Menurut pengurus di Divisi PR & Sponsorship HC Aceh, ketika ada pihak yang memberikan apresiasi bagi komunitas HC Aceh, misalnya ramai-ramai berpartisipasi untuk acara HC Aceh, atau mengajak HC Aceh bergabung dalam suatu program/kegiatan sebuah komunitas/media/organisasi, maka tidak bisa dipungkirinya, bahwa Maya memang senang dan berbahagia. “Alhamdullah,” tutur Maya dalam senyumnya.

(nani hs)

Tips Memakai Hijab :

1. Pastikan rambut Anda bersih dan benar-benar kering sebelum memakai hijab. Karena memakai hijab dalam keadaan rambut kotor atau lembab, akan mengakibatkan kerusakan pada rambut.

2. Pastikan hijab yang digunakan bersih.

3. Pilih bahan ciput (dalaman) yang menyerap keringat dan berpori, sehingga kepala tetap terasa sejuk dan nyaman, seperti bahan kaus. Hindari dalaman yang berbahan spandex yang tidak menyerap keringat dan berpori minim, karena akan menyebabkan rasa panas dan tidak nyaman, bahkan dapat menyebabkan permasalahan lain pada kulit yang sensitive terhadap penumpukan keringat.

4. Jika tidak menggunakan dalaman/ciput, pilih bahan hijab yang cukup tebal, namun tetap berpori dan menyerap keringat dengan baik serta lebih mudah dibentuk (tidak licin), seperti bahan kaus, katun atau cashmere. Jika sudah menggunakan dalaman/ciput, pilihan bahan hijab dapat lebih variatif, menyesuaikan dengan model hijab yang kita inginkan.

5. Sesuaikan bahan hijab dengan acara ataupun kegiatan yang akan kita jalani. Jika ke acara pesta formal, dapat menggunakan bahan hijab dengan kesan mengkilap seperti sutra, satin, bahan berglitter dan pernak-pernik berkilau lainnya, namun tetap hindari kesan “terlalu berlebihan” dalam pemakaian asesoris. Untuk kegiatan sehari-hari, pilih bahan yang terlihat natural, seperti sifon, katun paris, cashmere, kaus. Untuk kegiatan di kantor, hindari penggunaan hijab berbahan kaus, boleh menggunakan hijab dengan kesan mengkilap seperti sutra (tidak berglitter), namun hindari asesoris yang terlalu mencolok, untuk menimbulkan kesan formal tapi tetap natural dan nyaman.

6. Meskipun saat ini begitu banyak trend model hijab yang tersedia, jangan langsung mengikuti trend saja, tapi sesuaikan dengan bentuk wajah. Lihat atau test terlebih dahulu sebelum menggunakannya, jika sulit menentukan, Anda bisa menanyakan pendapat orang terdekat, apakah model tersebut cocok atau tidak dengan bentuk wajah Anda.

Berikut cara memilih model hijab berdasarkan model wajah (tips dari HC Aceh):

· Wajah bulat
Pilih ciput yang tinggi potongan kelimnya tepat diatas telinga (biasa disebut ciput antem), lebih baik gunakan model hijab yang berdraperi atau melambai hingga menutupi pipi yang besar.
· Wajah chubby (tembem hanya bagian atas)
Pilih Ciput yang potongan kelimnya rendah (dibawah telinga),agar wajah terlihat lebih lebar di bagian pipi ke bawah dan lebih proporsional. Pilih model jilbab yang simetris (seperti belah tengah) dan agak menjorok ke depan (berupa draperi ringan).
· Wajah persegi (berahang besar)
Pilih ciput yang tinggi potongan kelimnya tepat di atas telinga (ciput antem). Lebih baik gunakan model hijab yang asimetris dan hindari posisi hijab terlalu menjorok ke belakang (dekat telinga) karena bentuk rahang akan terlihat lebih jelas.
· Wajah lonjong
Pilih ciput yang potongan kelimnya rendah (di bawah telinga), agar wajah terlihat lebih lebar di bagian pipi ke bawah dan lebih proporsional. Hindari model hijab yang simetris (seperti belah tengah) karena akan memperjelas bentuk wajah yang panjang.
· Wajah oval
Bagi yang berwajah oval, semua model hijab umumnya cocok digunakan. Karena bentuk wajah ini merupakan bentuk wajah yang netral.

7. Pastikan hijab yang dikenakan tidak membatasi ruang gerak, jangan sampai hijab yang Anda kenakan membuat sulit bergerak dan mengakibatkan ketidaknyamanan.

8. Sesuaikan warna dan model hijab dengan kepribadian Anda. Pilih model dan warna yang membuat Anda percaya diri. Bukan malah menjadi risih karenanya. Karena kecantikan yang sejati adalah yang terpancar dari kepercayaan diri dan niat hati yang tulus dalam berhijab.

(nan/HCA)

HIJABERS COMMUNITY ACEH, BUKAN SEKADAR ESTETIKA PAKAIAN

Serambi Indonesia/Sabtu, 12 Januari 2013 12:15 WIB


Berita Terkait
Maya, Rasanya Seperti Bersaudara

KENAPA komunitas hijabers belakangan mulai dibicarakan? Apa dari segi fashionablenya? Karena Indonesia telah menjadi trendsetter busana muslim? Atau karena hijabers “identik” dengan cantik dan modis? Tapi, apapun kesan dan julukannya, pada faktanya komunitas hijabers muncul juga di Aceh. Malah sedang ngetrend-ngetrendnya.

Tersebutlah Hijabers Community (HC) Aceh, yang hampir dua tahun terbentuk. Awalnya, bukan bernama HC Aceh, tapi Hijabi Aceh Society (dibentuk pada Senin, 4 Juli 2011). Lalu, pada Jumat 7 Oktober 2011, HC Pusat memperbolehkan Hijabi Aceh Society bergabung dengan HC Pusat, dengan nama Hijabers Community Aceh. Itu artinya setelah HC Pusat, HC Jakarta, HC Bandung, HC Padang, lahirlah HC Aceh, diikuti HC Jakarta. HC Aceh langsung diresmikan HC Pusat.

Menurut Ketua Hijabers Community Aceh, Cut Myra Angela, tidak mudah bisa bergabung dengan HC Pusat. Setidak-tidaknya harus memenuhi kriteria tertentu terhadap jajaran pengurus, bentuk kegiatan, karakter, visi dan misi, dan menjadikan pengajian sebagai rutinitas komunitas.

Sebenarnya ketentuan HC Pusat memang sudah relevan dengan keberadaan HC Aceh. Sebagaimana diungkapkan Myra, pembentukan komunitas ini, diawali dari keinginan beberapa muslimah Aceh untuk membentuk ajang silaturrahmi antarperempuan di Aceh, yang berkomitmen untuk memakai hijab bukan karena keterpaksaan, tetapi lebih kepada kesadaran mamatuhi syariat Islam. Lalu difokuskan juga sebagai ajang berbagi hal-hal positif, terutama dalam usaha menjadi sosok muslimah yang lebih baik. Sehingga mampu memberikan citra positif sebagai muslimah Aceh, di berbagai kalangan masyarakat.

Lalu siapa hijabers? Kaum high class, para remaja, atau kalangan penyuka fesyen?”Yang jelas, komunitas ini bukan sekadar mau modis dan cantik dalam penampilan. Tapi lebih kepada innerbeautylah. Bahwa kita lebih modis dalam mengenakan hijab, sih iya. Tapi lebih dari sekadar tampilan atau gaya, kita tetap tidak melupakan yang syar’i. Anggota dari HC Aceh pun berasal dari berbagai latar belakang dan ragam profesi. Mulai dari mahasiswi, dokter, dokter gigi, pengusaha. hingga ibu rumah tangga, dengan usia antara 20-35 tahun,” ungkap Myra.

“Dan saat kami ngumpul, nyaris tidak ada yang bergosip loh,” timpal pengurus di Divisi PR & Sponsorship HC Aceh, Maya Safira Dahlan.

Senada dengan Maya, Myra juga mengatakan, bahan obrolan di lingkungan HC Aceh, sangat beragam, dari bahan obrolan yang ringan seperti masalah pribadi, tempat hangout yang asik dan pantas, kreasi hijab terbaru, alat-alat dan cara bermake-up, dan sebagainya. Namun lebih sering membahas masalah sosial, termasuk apa yang bisa dilakukan HC Aceh sebagai kontribusi dalam penyelesaian masalah tersebut. “Saat bertemu kita lebih sering membicarakan rencana event kita ke depan,” kata Myra.

“Pada prinsipnya HC Aceh, tetap ingin menjadi komunitas yang setidak-tidaknya, bisa menjadi inspirasi bagi perempuan lain, bahwa dengan hijab orangpun tetap update untuk fesyen. Yang penting gaya busananya syar’i, tidak ketat dan hijab menutupi dada. Mari tetapkan hati, luruskan niat dan ikhlas. Dengan menggunakan hijab tidak akan mengurangi penampilan. Malah sebaliknya kita akan terlihat makin cantik, anggun, dan terhormat. Ayok kita sama-sama untuk lebih sempurna berhijab,” pungkas Maya, yang Selasa (8/1) siang lalu, di News Room Serambi, bersama-sama Myra menjelaskan apa, siapa, dan bagaimana komunitas Hijabers Community Aceh.

Dengan tidak bertujuan ria, mereka juga mengungkapkan kalau sejauh ini sudah ada pihak-pihak yang mengajak bekerjasama, termasuk kalangan kampus, radio, dan televisi, walau nonkomersil sifatnya. Satu hal yang tidak mau mereka respon, yaitu masuk ke ranah politik. (nani hs)

visi misi 

· Mengangkat citra positif hijab di lingkungan masyarakat
· Mempersatukan semua individu wanita pemakai hijab di Aceh dalam satu wadah
· Mensosialisasikan hijab sebagai kewajiban yang menyenangkan dan tanpa paksaan dari pihak-pihak tertentu.
· Merangkul semua individual bagi yang belum maupun yang sedang dalam proses belajar memaka hijab.
· Memfasilitasi wadah kegiatan yang bersifat positif yang berkaitan dengan Islam, wanita dan hijab.(*)

kegiatan hc aceh

· Tausyiah Islami; yaitu berbagai kajian tentang agama Islam yang dirangkum dalam suatu forum diskusi pembelajaran yang akrab, dan tidak terkesan menggurui, dengan didampingi oleh para ustazah terkemuka di Aceh.
· Hijab Class; yaitu tutorial aneka ragam kreasi gaya berhijab yang bisa diaplikasikan sehari-hari, atau pada acara-acara khusus. Untuk hijab class ini, pemateri/tutor bisa berasal dari kalangan HC Aceh, dan tak jarang didatangkan dari HC Pusat, serta tutor-tutor terkemuka lain yang sudah banyak dikenal kreatifitasnya dalam berhijab.
· Salam Muslimah; yaitu kegiatan silaturrahmi antarpengurus dan anggota lainnya, ajang bertukar pikiran, satu sama lain, membahas tentang banyak hal terutama kegiatan bermanfaat yang ingin dilakukan atas nama HC Aceh. Sedangkan kegiatan yang sifatnya tentative antara lain: Charity, bazaar, fashion show, manners course, make up tutorial.(nan/hca)





13/02/12

TITOK, BERGOYANG TANPA TERASA

Serambi Indonesia/Minggu,12 Februari 2012



“SAYA ini tukang antar surat, sampai tua,” ujar Titok sambil tertawa. Musisi ini konon tak suka berlebih-lebihan. Ia sangat merendah dan berterus terang tentang kegetiran yang telah dilalui selama hidupnya. Kini, pensiunan PLN itu menggelantung di sebuah keyboard yang sudah digelutinya sejak lama.

Siapa yang tak kenal Titok? Paling tidak di kalangan penggemar musik di Aceh, Titok yang bernama asli Sucipto itu dikagumi karena kebolehannya. Pemain keyboard ini bisa tarik suara semirip Louis Amstrong. Suaranya serak-serak basah dan lepas ke udara. Ia, agaknya memang tak bisa dipandang enteng. Hanya nasib badan saja yang tak beruntung. Andaikata dia menetap di Jakarta, bisa jadi bahunya sejajar dengan musisi-musisi berat lainnya.

Lahir di Banda Aceh, 1953, Titok membawa darah seni dari orang tuanya. Seniman sampai tua ini tak pernah menyerah. Digelutinya keyboard habis-habisan. Maka dia bereksperimen dengan alat musik one for all, satu alat semua suara. “Saya modifikasi, agar keyboard saya benar-benar bisa membumi,” katanya mengisahkan intuisi eksperimentalianya itu. Maksudnya, agar keyboard tak hanya bersuara konvensional, tapi bisa menghasilkan suara-suara alat musik lokal, misalnya seurunee kale dan rapa-i.

Titok berhasil, meski keyboard berbasis pentatonik sulit sekali menemukan nada-nada mikrotonik yang umumnya jadi basis nada musik Aceh. Ia mengkolaborasikan musik Aceh dengan musik konvensional. Dengarlah lagu “Rukok Meugogok” yang berlirik Aceh ciptaannya. Diaransirnya lengkap dengan intro seurunee kale, lalu dinyanyikannya dengan suara Louis Amstrong dalam tempo slow rock. Enak didengar dan sangat menggelitik.

Bagi Titok, keyboard-nya menjadi semacam azimat. Soalnya alat yang disebutnya sebagai peutoebeuet (peti menyanyi) itu sudah berkemampuan prima. Suara-suara yang dimodifikasi itu berasal dari rekaman asli alat-alat musik yang diolahnya menjadi program. Misalnya saxophone, direkamnya dari permainan saxophone pemusik kondang seperti Pomo. Suara itu dimasukkan ke keyboard, lalu di-compose dengan komputer. Hasilnya? Suara saxophone keyboard Titok, ya seperti aslinya.

Berbeda dengan suara keyboard bawaan pabrik. “Suaranya memang bisa mirip saxophone, tapi itu hasil rekayasa elektronik digital yang beda dengan rekaman life dari perangkatnya,” ujar Titok.

Suara saxophone dari keyboard Titok, persis suara asli, sampai desis dari lidah saxophone juga terdengar. Lalu banyak suara jenis alat musik lain yang telah di-input ke dalam keyboard-nya sekarang. Akordion, biola, suling, entah apa lagi. Sehingga, Titok bisa melayani berbagai lagu. lagu-lagu pop, jazz, rock, dangdut, melayu, bahkan sampai keroncong.

Dari Bangkok 

Keyboard itu punya sejarah sendiri. Alat musik itu dibelinya dengan susah payah di Bangkok. Mereknya KORG, buatan Jerman. Waktu itu tahun 1980, harganya kira-kira tiga jutaan rupiah. “Itu mahal sekali. Cuma itulah uang saya, tapi saya senang sekali karena telah punya alat musik idaman,” ujar Titok.

Celakanya, bagaimana bawa pulangnya? Masuk lewat pabean Indonesia, tentu harus bayar. Padahal Titok tak punya uang lagi. Karena itu dia nekat pulang dengan kapal ikan yang menuju wilayah Peureulak. “Jadi itu barang selundupan, ya?” tanya Serambi. Titok tertawa terbahak-bahak, merasa lucu dituduh penyelundup. Tapi itu sudah jadul, kok. Mau apa lagi?

Kini keyboard kesayangannya itu memang menjadi barang tua. Meskipun begitu, sudah ada orang menawar mau beli dengan harga mahal. “Memang sih saya butuh uang. Tapi mana mungkin saya menjualnya. Kalau lepas, maka seluruh proses kreatif saya ikut lenyap,” tutur Titok.

Dia pun telah membangun kehidupan berkeseniannya pelan-pelan. Sejak tahun 1981 Titok mendirikan “Titok Entertainment” sebagai wadah usahanya. Titok sekarang punya peralatan sound yang cukup, bahkan sampai 10.000 watt. Bisa melayani kebutuhan lapangan dengan massa yang banyak.

Di Ultah Serambi

Kemis, pekan lalu, Titok tampil di pentas Ultah ke-23 Serambi Indonesia. Titok sempat melantunkan “Bangun Tidur, Tidur Lagi” ala Mbah Surip. Penontonpun, bertepuk, bergoyang tanpa terasa. Bukan main, HUT yang sederhana itu jadi meriah. Titok mampu melayani para karyawan yang ingin tarik suara. Mulai yang menyanyi bagus, sampai yang kacau-balau. Kelebihan Titok memang di situ. Bisa dengan cepat menyesuaikan nada penyanyi yang “lari” tone-nya. Tukar “kunci nada” dengan cepat tanpa terasa, bahkan sampai menyesuaikan tempo yang kacau. Semuanya jadi oke.

Vokalis andalan

Yang paling oke, Titok kini punya primadona. Vokalis cewek yang konon punya suara keren, Irma, nama pentasnya. Irma ternyata punya warna suara semirip Krisdayanti. Bahkan sampai ke vibra dan cengkoknya. Irma sudah bergabung dengan Titok sejak 2004. Nama lengkapnya Irma Suryani SH, kelahiran Banda Aceh, 14 November 1975. Ia lulusan Unsyiah yang punya bakat jadi penyanyi kondang. Berbagai festival telah diikutinya sejak 1993. Tahun 1994-1996 pernah juara II dan III pop jazz, juara III pok rock, harapan I dangdut, dan juara II Bintang Radio se-Aceh. “Yang belum saya rekaman, belum ada yang ngajak, gitu,” ujar Irma, santai.

Tak pelak, dengan kehadiran Irma, Titok Entertainment seakan menjadi three in one. Yakni KORG, Titok dan Irma menjadi satu dalam berbagai Titok Show. Mau pesan Titok Entertainment? Kontak saja ke HP 08126905859. “Pokoknya beres,” ujar Titok sambil he..he..he.

Nani.HS


05/04/11

TANGSE, SETELAH 25 HARI

Serambi Indonesia/Mon, Apr 4th 2011, 10:18


Ketua Forum Tokoh Perempuan Aceh (FTPA), Rd Sugiatri menyerahkan bantuan korban banjir bandang Tangse, yang diterima Tgk Kamaruddin Husen, Pidie, Minggu (3/4). SERAMBI/NANI HS

MEMASUKI kawasan musibah banjir bandang Tangse pada hari ke-25 pascamusibah, Minggu 3 April 2011, ada perubahan fisik yang signifikan dibanding periode tanggap darurat minggu pertama. Badan jalan yang sebelumnya putus mulai lancar lagi, bengkalai banjir berupa kayu gelondongan yang menutup badan jalan atau areal permukiman penduduk mulai bersih, dan aktivitas masyarakat berangsur pulih.

Di ruas jalan yang melintasi Desa Layan, Peunalom Sa, Peunalom Dua, Blang Dalam, Ulee Kale, sepanjang lima kilometer, misalnya, yang porak-poranda dihantam bencana, sejak sepekan terakhir sudah mulai tembus hingga Desa Ulee Kale yang sempat terisolir. Meski demikian, di beberapa titik masih harus meniti jembatan darurat. Sepintas tidak ada lagi kesan duka dan darurat di desa-desa tersebut. “Sebelumnya jalan antardesa porak poranda dan ditebali lebih setengah meter bengakalai banjir bandang,” kata Keuchik Blang Dalam, Zainal Abidin.

Sekda Pidie, M Iriawan selaku Koordinator Posko Induk Penanggulangan Bencana Banjir Bandang Tangse kepada Serambi mengatakan, berdasarkan hasil kesepakatan bersama, pemerintah menambah 12 hari lagi masa tanggap darurat, yaitu 3-14 April 2011. “Hari ini (Minggu), petugas posko istirahat karena kelelahan setelah 24 hari bertugas di Tangse. Hari Senin aktif lagi apalagi masa tanggap darurat sudah diperpanjang,” kata Iriawan.

Kunjungan sosial FTPA

Pada Minggu kemarin, atau bersamaan dengan masuknya masa tanggap darurat periode III (3-14 April 2011), Forum Tokoh Perempuan Aceh (FTPA) melakukan kunjungan sosial ke Tangse.

Meski FTPA tidak datang untuk membangun jembatan yang rusak atau membuat barak untuk 220 kepala keluarga korban bencana maupun membenahi jaringan air bersih, pembersihan lokasi atau memperbaiki saluran irigasi tetapi kunjungan sosial tersebut mampu membangkitkan semangat para korban bencana, sebagaimana pengakuan Imum Mukim Layan, Kabupaten Pidie, Kamaruddin Husen.

Kamaruddin merasa kunjungan yang dipimpin Ketua FTPA, Rd Sugiarti tersebut sangat positif. “Terima kasih sekali. Ini menjadi hiburan hati yang meringankan derita kami,” kata Kamaruddin sambil menitip harapan bahwa masyarakat Kemukiman Layan sangat ingin selekasnya bisa menggarap sawah atau kebun. “Irigasi yang hancur, jembatan yang ambruk agar diprioritaskan pembangunannya. Kami juga membutuhkan bantuan perangkat dapur,” kata Kamaruddin.

Keuchik Blang Dalam, Zainal Abidin tak bisa menyembunyikan keharuan ketika rombongan ibu-ibu FTPA membawa langsung bantuan ke kampungnya. Menurut Zainal, walau sedikitnya ada 38 kali pihaknya menerima sumbangan, tetap saja ada warga yang berkecil hati karena banyak penyumbang yang tak singgah langsung ke kampung. “Ya, barangkali desa kami agak jauh masuk ke dalam, ya orang-orang lebih banyak masuk ke Peunalom, misalnya,” ujar Zainal.

Ketua FTPA, Rd Sugiarti kepada Keuchik Blang Dalam mengatakan, “semoga kedatangan kami bisa menjadi penawar dukalah. Jangan dilihat apa yang kami bawa hari ini, yang terpenting sebagai orang yang jauh ingatan kami tetap ada kepada sesama sudara di Tangse ini. Ikut berbagi, itulah tujuan kami menjumpai bapak/ibu sekalian.” Sedangkan menyangkut laporan dan harapan Imum Mukim Kamaruddin, Sugiarti berjanji akan meneruskan permintaan pembangunan jembatan, irigasi, dan perlengkapan dapur untuk PKK desa.

Begitulah, menjelang pukul 16.00 WIB, rombongan FTPA meninggalkan lokasi bencana banjir bandang yang mulai sepi dari lalu lalang kaum dermawan atau suara-suara alat pembersih bengkalai bencana. Bangkitlah Tangse.

(nani hs)



03/04/11

CRISIS CENTER MALAYSIA UTAMAKAN KEMANUSIAAN

Serambi Indonesia/Sat, Apr 2nd 2011, 10:55

Dari Kunjungan PTPA ke Malaysia (3, Habis )


Salah satu loket berobat di rumah sakit Kuala Lumpur bertuliskan Selamat Datang ke Jabatan Kecemasan Hospital Kuala Lumpur (Kauter Triage). Loket kecemasan (gawat darurat) tersebut ditulis dengan warna merah. Lambang kegawatdaruratan di Hospital Kuala Lumpur.SERAMBI/NANI HS

“Di sini kami bukan saja merawat korban keganasan secara medik. Tapi juga memberikan perlindungan bagi korban keganasan dan menyelesaikan masalahnya hingga ke pengadilan. Bagi kami, yang amat penting adalah perikemanusiaan terhadap siapa pun korban tindak kekerasan. Bahkan tanpa memandang ras ataupun agama,” kata Ketua Jabatan Kecemasan dan Trauma Hospital Kuala Lumpur, Dato Dr Abu Hassan Asaari Abdullah, dengan bahasa Indonesia yang pas.

Sosok yang bergelar profesor dan meriah doktor di Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur ini, adalah orang pertama yang mendirikan One Stop Crisis Center (OSCC) Hospital Kuala Lumpur, Malaysia, setelah ia pulang belajar dari Inggris pada tahun 1994.

Sisi kemanusiaan yang bagaimana? Prosesnya ternyata dimulai dari rekrutmen petugas OSCC. Sejak awal, badan ini melatih dulu paramedis untuk punya empati dan harus punya kepekaan (sensitivitas) tinggi terhadap korban tindak kekerasan. Petugas dimotivasi dan dilatih dari bulan ke bulan. Barulah faktor lain melengkapi hal mendasar ini. Sebab, menurut Abu Hasan, betapa sulit membuang stigma dalam masyarakat yang akhirnya mendera korban. Sebut saja korban perkosaan. Menegakkan rasa sensitif itu, di 120 OSCC seantero Malaysia, petugas polisi pun tak mengenakan uniform, demi menghindari kesan angker seorang polisi.

Bila suatu kali ke OSCC Kuala Lumpur, Anda akan menemukan satu counter kaca bertuliskan Selamat Datang ke Jabatan Kecemasan Hospital Kuala Lumpur, yang ditulis dengan warna merah. Warna mencolok ini bermakna sebagai counter darurat. Di tempat ini, petugas langsung tahu mana yang korban tindak kekerasan, mana pula yang bukan, lewat sebuah sandi/tanda di formulir record (rekam medik) yang dibawa korban.

Lantas, tanpa banyak tanya, petugas yang terus berganti itu (tidak tetap), langsung membawa korban ke bilik tersembunyi, sesuai dengan kasus yang dialami korban. Jadi, selain petugas di loket, tidak seorang pun tahu, pasien yang datang tersebut sebenarnya korban perkosaan atau korban kekerasan dalam rumah tangga, misalnya.

Sesampai ke bilik perawatan (sekaligus konseling), maka tampaklah pada kita bahwa bilik-bilik tersebut memang didesain khusus dibanding bilik perawatan lainnya. Warna pink plus gambar-gambar boneka, bunga, dan hiasan lucu lainnya, adalah bilik untuk korban kanak-kanak. Jauh dari kesan menakutkan sebuah rumah sakit. Bila proses perawatan medik selesai, barulah petugas menuju tahap berikutnya.

Tim OSCC yang terdiri atas pihak kepolisian, lembaga swadaya masyarakat, kehakiman, dan perawat, mengumpulkan data medik (misalnya kasus perkosaan) untuk diajukan ke pengadilan.

Rekam data medik diolah lagi secara science melalui pakar forensik, sebelum diajukan ke pegadialan. “Record data haruslah sempurna. Mapping harus secara ilmiah. Semestinyalah melalui OSCC ini pembelaan korban lebih bagus,” ungkap Abu Hassan.

Keganasan rumah tangga (kekerasan dalam rumah tangga), penderaan kanak-kanak (kekerasan terhadap anak), pembuangan bayi, mangsa rogol (korban perkosaan), mangsa liwat (korban sodomi), keganasan gender (kekerasan pasangan intim), merupakan kasus rutin yang ditangani OSCC. Secara garis besar samalah seperti di Aceh. Hanya saja di OSCC, dalam sebulan rata-rata didatangi 30 orang. Korban tidak kekerasan (terutama perempuan) mencapai 10-15 orang. Korban perkosaann dan kekerasan anak bisa 15-20 orang.

Kenapa banyak yang mau dan berani melapor? “Ini berkat sosialisasi OSCC kepada masyarakat. Kami lakukan secara gencar dan terus-menerus. Social worker OSCC terus bekerja mencari ibu/bapak angkat bagi bayi buangan, misalnya. Urusan kami menolong korban, bukan menginterogasi korban, atau mencari siapa yang salah atau tidak,” kata Abu Hassan dengan suara bass-nya dan bermimik serius.

So, apakah setelah studi bandingnya ke Kuala Lumpur, Malaysia (27-30 Maret 2011) lalu, Persatuan Tokoh Perempuan Aceh (PTPA) akan melakukan sesuatu untuk ikut “membumikan” OSCC (di Aceh disebut Pelayanan Satu Atap yang bertempat di RS Bhayangkara Banda Aceh? Jangan-jangan masyarakat pada umumnya tidak tahu kalau sebenarnya ada pihak yang peduli dengan kasus-kasus tindak kekerasan yang dialami mereka. (nani hs)





02/04/11

SEKILAS KISAH KRAFTANGAN MALAYSIA

Serambi Indonesia/Fri, Apr 1st 2011, 10:20
Dari Kunjungan PTPA ke Malaysia (2)
Utama


Ketua Persatuan Tokoh Perempuan Aceh, Rd Sugiarti Teuku Said Mustafa, mengamati hasil kerajinan rakyat Malaysia, di Perbadanan Kemajuan Kraftangan Malaysia (semacam Kantor Dekranas), di Conlay Street, Malaysia, Senin (28/3) pagi. SERAMBI/NANI HS

RUTINITAS bantuan pemerintah, baik dalam hal peningkatan kemampuan, maupun kucuran dana dari pihak-pihak terkait adalah faktor utama tumbuh pesatnya pembangunan bidang kerajinan rakyat di Malaysia. Tak heran bila Ketua Persatuan Tokoh Perempuan Aceh (PTPA), Rd Sugiarti Teuku Said Mustafa, memberi apresiasi tinggi terhadap Lembaga Kraftangan Malaysia, ketika berbicara di Kantor Perbadanan Kemajuan Kraftangan, di Jalan Conlay, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (28/3).

Sejujurnya, hanya dua poin itulah yang mengganjal tumbuh kembangnya kerajinan rakyat di Aceh. “Perajin kita sebenarnya tidak kalah kreatif dalam berkarya. Banyak properti atau souvenir hasil kerajinan perajin kita yang bagus-bagus dan unik. Hanya saja, kita terkendala dana operasional dan tidak lancarnya proses pemasaran hasil. Barangkali yang perlu kita perbaiki adalah kemasan produk, termasuk harus lebih agresif mengikat kerja sama, terlebih dengan luar daerah, bahkan pihak luar negeri,” ungkap Sugiarti.

Memang benar. Keterlibatan pihak Kerajaan Malaysia untuk memajukan industri kecil dan menengah di Malaysia, bukan proyek cilet-cilet. Faktanya, badan yang pada tahun 1958 bernama RIDA itu, diperkuat dengan undang-undang pula.

Dalam Undang-Undang Malaysia Akta 222 (1979), ada Akta Peradaban Kemajuan Kraftangan Malaysia (memajukan, menggiatkan, dan memelihara kraftangan. Memelihara standar perusahaan kraftangan sekaligus mengurus pemasarannya, meninggikan mutu, dan mengurus pengeksporannya).

Lalu, lebih mantap lagi, pada tahun 1983 terdapat Akta A562 atau Akta Perbadanan Kemajuan Kraftangan Malaysia (Pindaan). Pada perkara 15 (3), butir b ayat (1), dalam bahasa Indonesia berarti, memberi modal atau pinjaman kepada perusahaan/industri kerajianan yang berhak. Semua ini setidaknya pada tahun 2009, kraftangan Malaysia diawasi oleh Kementerian Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaya. Dengan misi dan visiny adalah membangun dan mempromosikan industri serta pengusaha kraf. Menjadi pemimpin dalam pertumbuhan, pembangunan, dan promosi industri kraf yang kukuh dan berdaya saing.

Tentu di Aceh semua ini juga ada aturan dan tata laksananya kok. Tapi sudahkah itu berfungsi sebagaimana mestinya? Dalam contoh kecil, sebut saja, soal akses pinjaman kredit bagi perempuan. Apakah sudah mulus jalannya? Tidak ada lagi diskriminasi antara nasabah laki-laki dan perempuan, antara pengusaha kecil dan besar? Lagi-lagi Aceh harus bercermin. Tatkala pihak Kraftangan Malaysia memutar film dokumenternya yang disaksikan 35 anggota rombongan PTPA, kita pun berpikir, kalaulah saja Pemerintah Aceh lebih perhatian terhadap perajin industri rumah tangga, tentu derajat ekonomi rakyat akan cepat terdongkrak.

Dari gambar-gambar dan narasi film berdurasi 30 menit itu, kita pun berpikir lagi, “Memanglah ya, kalau semua perajin terpedulikan dengan baik dan diberi sentuhan akhir sebagaimana mestinya (termasuk kemasan), tentulah yang sederhana pun menjadi fantastik. Kalau tidak, kreativitas perajin kita yang tak kalah itu, menjadi bagai sayur bening tanpa garam. Banyak manfaat, tapi tak memiliki taste.”

Apa sih kiat kraftangan dalam memajukan industri kerajinan di Malaysia? Tidak sulit kok. Jawabnya: pengembangan pemasaran, pembangunan produk berorientasi pasar, peningkatan teknologi, standardisasi, dan pengawalan mutu produk. Pembangunan usahawan yang berpotensi serta pemilihan bahan mentah yang berkualitas, termasuk di antara jawabannya. Di samping pelestarian karya warisan dan membina tenaga siap latih secara berkesinambungan.

Nah, bukankah ini sama saja seperti yang kita lakukan di Aceh? Kalau begitu, apa kira-kira yang “lupa” kita lakukan? Pertama adalah rutinitas pembinaan. Campur tangan pemerintah pascaproduksi. Sebut saja pemasaran dan promosi domestik, hampir tidak ada bukan? Belum lagi niat kita menetapkan hari kerajianan daerah, misalnya. Menggelar promosi bertema secara berkala (bukankah selama ini sedikit sekali usaha pemerintah mempromosikan hasil kerajinan rakyatnya?) Paling-paling ya cetak brosur. Malah seringkali pengusaha memasang iklan sendiri untuk menjual produknya. Lalu sudah seringkah kita menggalakkan promosi antarbangsa, pelatihan-pelatihan produk ekspor, apalagi mengirim perajin ke luar negeri, membangun proyek satu daerah satu industri?

Yang lebih “mengharukan”, di Malaysia semua pekerja seni di bidangnya yang andal, pada akhirnya mendapat kesenangan di kemudian hari. Lagi-lagi perhatian dan penghargaan pemerintah/Kerajaan Malaysia ini menjadi motivasi dalam berkarya. Siapa pun yang berprestasi terhadap negara dan memberi kemaslahatan bagi rakyat, misalnya, membuka lapangan kerja, maka ia tetap mendapat manfaat/penghargaan/jaminan dari kerajaan.

Dalam aktivitas Badan Kraftangan Malaysia periode 2008, ada dua poin yang bisa kita adopsi. Yaitu, pengangkatan Tokoh Adiguru Kraf dan Tokoh Kraf Negara. Mereka ditokohkan karena mampu mewariskan kemahirannya bagi peserta didik generasi muda dan masih berkarya banyak bagi kemajuan industri, termasuk membuka lapangan kerja. Golongan adiguru kraf diberi kemudahan perawatan kesehatan gratis di kelas I hingga akhir hayat dan diberi kesempatan belajar ke luar negeri. Mereka yang mendapat penghargaan sebagai Tokoh Kraf Negara (the best-nya adi guru kraf), selain mendapat fasilitas kesehatan kelas I, yang masih aktif berkarya tetap dibantu industrinya, plus mendapat pesangon 60 ribu ringgit (kira-kira Rp 183 juta).

Yang jelas, sebagai donatur dan pemelihara Kraftangan Malaysia, pihak kerajaan tidak mengambil untung dari usahawan kerajinan rakyat. “Bila sudah tahu kemampuan usahawan, kerajaan akan mempromosikannya hingga ke luar negeri. Kalau usahawan tersebut lemah usaha dan kemampuannya, tidak akan gencar pula promosinya. Satu hal lagi, pemerintah tidak mengambil cukai usaha,” ungkap Pengarah Bahagian Komunikasi Korporat Kraftangan Malaysia, Encik Misroni bin Haji Sulaiman.

Mau tahu apa yang membuat forum pertemuan PTPA sedikit patah semangat, walau sempat tersenyum juga? Ini dia dialognya. “Encik, perajin anyaman kami di Kabupaten Pidie Jaya memproduksi tikar. Adakah peluang bagi kami ikut mempromosikannya di Malaysia?” tanya istri Drs M Gade Salam, Bupati Pidie Jaya yang turut menyerahkan cendera mata berupa tikar duduk yang apik dan rapi.

“Oh, sayang sekali, Puan. Kami tak lagi menggunekan tikarlah. Produk anyaman kami telah direkayasa untuk produk laen. Macam tas tangan dan laen-laenlah,” jawab Sang Encek. Ya tentu sajelah macam tu, Encek. Kendati peradaban Encek telah mendepak produk tikar ke luar pagar, namun peradaban kami di Aceh masih memerlukan tikar. Sebab, tikar merupakan bagian dari budaya kami yang terus dilestarikan. 

(nani hs)

Akses m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.

·



01/04/11

ACEH INGIN ADOPSI PROGRAM PEMBERDAYAAN ANAK "PERMATA"

Serambi Indonesia/Thu, Mar 31st 2011, 10:09

Dari Kunjungan PTPA ke Malaysia (1)

Utama


Rombongan Persatuan Tokoh Perempuan Aceh (PTPA), Minggu (27/3) pekan lalu, melihat dari dekat bagaimana pemberdayaan perempuan dan anak di negara jiran Malaysia. Wartawati Serambi Indonesia, Nani HS yang menyertai kunjungan yang dipimpin istri Gubernur Aceh, Darwati A Gani, itu menurunkan tiga laporannya mulai hari ini. 

BANYAK program kemanusiaan yang telah dikerjakan organisasi Badan Amal dan Kebajikan Istri-istri Menteri dan Timbalan-timbalan Menteri (Bakti, didirikan tahun 1997), yang diterapkan Malaysia, termasuk pemberdayaan ekonomi rakyat, membangun potensi wanita, dan aksi sosial untuk bencana alam hingga mancanegara.

Namun masalah teknik dan mekanisme pemberdayaan anak berprestasi dan bertalenta, (dalam program Permata), seperti yang diungkapkan oleh istri Perdana Menteri Malaysia, Yang Amat Berbahagia (YABhg) Datin Paduka Seri Rosmah Mansor, telah menjadi perhatian istri Gubernur Aceh, Darwati A Gani.

“Saya ingin model dan sistem pemberdayaan anak, nantinya bisa kami terapkan di Aceh,” katanya dalam acara Majelis Perjumpaan Muhibbah Bersama Persatuan Tokoh Perempuan Aceh, Selasa (29/3), di kediaman Perdana Menteri Malaysia.

Upaya mencari dan menjemput anak-anak berbakat sesuai talentanya, yang dilakukan Bakti sampai ke pelosok negeri Malaysia, dinilai Darwati sebagai usaha yang tepat demi kesinambungan dan pengembangan pendidikan generasi bangsa.

Dalam kesempatan itu Darwati juga meminta Bakti bisa bekerjasama untuk dunia pendidikan anak di Aceh. Misalnya, melalui Taman Kanak-kanak (TK) Montesari sumbangan Malaysia, yang dibangun di Aceh pascatsunami, dan dalam waktu dekat akan diserahkan kepada Pemerintah Aceh.

Apa “digjayanya” Permata? Menurut Datin, dasar pembentukan program pendidikan tersebut dilatarbelakangi keyakinan bahwa setiap anak yang dilahirkan di bumi Malaysia, adalah sebutir permata untuk negara yang akan bersinar menerangi kegemilangan negara di masa datang.

Dibentuklah Permata yang didukung keluarga dan Kerajaan Malaysia. Hingga tahun ini ada 600 pusat Permata di seluruh penjuru Malaysia, yang melibatkan 20.000 anak-anak Malaysia. Terdiri atas Permata Pintar bidang akademik), Permata Seni (seni budaya), dan Permata Insan (pendidikan agama).

Tidak tanggung-tanggung, untuk mencapai kemajuan kognitif, sosial, dan pembentukan emosi, anak-anak Permata, secara kontinyu, memperoleh program belajar di kampus UKM yang bertajuk Summer Camp. Di ajang dua minggu kemah bersama ini para siswa tak saja terlibat dalam proses belajar mengajar.

Tidak ada anak yang pasif. Masing-masing menunjukkan kemampuan menurut talenta masing-masing. Tak kalah penting, belajar bersosialisasi dengan lingkungan kampus. Lalu apa lagi yang bisa dipandang penting dari kunjungan PTPA ke Malysia kali ini?

Bolehlah juga kita kaji-kaji ajakan Datin Rosmah. Ia menyambut niat kerja sama PTPA untuk bekerja sama membangun pendidikan dan integritas perempuan Aceh. “Menobatkan raja di negeri Linggi. Keturunan pula para wali. Kita serumpun walau tak senegeri. Kekalnya ikatan bersimpul mati,” kata Rosmah dengan ramah bersirat mengundang persahabatan.

Maka, bilakah hasil studi banding PTPA yang diketuai Rd Sugiarti Teuku Said Mustafa ini, bisa ditindaklanjuti di Aceh? Lagi-lagi ditunggu empati, kerja keras, dukungan semua pihak. Atau, PTPA-kah kelompok pertama yang bakal menjadi leader-nya? Siapa berani? (bersambung)

Akses m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.



15/03/11

SAAT DARWATI MENYUSURI TANGSE

Serambi Indonesia/Mon, Mar 14th 2011, 10:21
Utama



Istri Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Ny Darwati A Gani, Minggu kemarin mengunjungi korban banjir Bandang di Tangse, Pidie. FOTO/IST

“KITA jangan lama-lama di sini. Saya mau segera ke lokasi musibah,” kata istri Gubernur Aceh, Hj Darwati A Gani, kepada Sekda Pidie, M Iriawan, di Desa Pulo Baro, Tangse, Minggu (13/3).

Seusai Zuhur kemarin, rombongan bergerak naik mobil dari Kantor Camat Tangse menuju Desa Peunalom Sa di Kecamatan Tangse, Pidie. Desa ini cuma berjarak satu kilometer dari Kantor Camat Tangse. Suasana duka langsung menyergap di Desa Peunalom Sa. Darwati bertemu seorang ibu, warga Peunalom Sa, yang matanya sembab. Ia sudah tiga hari menangis, karena anaknya hilang direnggut banjir bandang. Bocah yang masih TK itu, terlepas dari tangan sang ibu pada malam kejadian dan hingga kemarin sore belum ditemukan.

Kemudian, Darwati dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Desa Pucok Dua, desa paling atas posisinya sekaligus paling terisolir pascabanjir bandang Tangse yang baru pukul 11.00 WIB kemarin mulai bisa ditapaki.

Tapi untuk sampai ke Desa Pucok Dua, jangan sangka rombongan berjalan di badan jalan yang mulus. Terdapat berton-ton bengkalai kayu yang terbawa banjir bandang saat menerjang Tangse, Kamis (11/3) malam. Semua orang yang hendak ke Desa Pucok ini harus tertatih berjalan di atas bongkahan-bongkahan kayu. Di antaranya ada kayu yang garis tengahnya mencapai 30 cm, sedangkan panjangnya rata-rata dua meter. Terlihat tiga unit beko di lintasan ini yang sedang membersihkan bengkalai banjir bandang.

Tak ayal lagi, tidak sedikit pula bengkalai rumah yang papannya masih berpaku. Ironisnya, banyak orang berlalu lalang di atasnya tanpa alas kaki. Di beberapa tempat, mereka bahkan harus melewati lumpur yang tingginya setumit. Atau jalan yang ketika dipijak terasa seperti dilapisi busa.

Setelah berjalan kaki hampir empat kilometer, barulah rombongan Darwati yang terdiri atas unsur Dharma Wanita, Ikatan Pegawai Bank Indonesia, Ikatan Wanita Perbankan Kota Banda Aceh, TP PKK Aceh, Badan Pemberdayaan Keluarga dan Anak, Yayasan Sambinoe, dan jajaran Dinkes Aceh, sampai di Desa Pucok Dua, desa yang sementara ini hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki. Tentu saja rombongan tak bisa sampai ke desa terisolir lainnya. Peunalom Dua sekitar dua kilometer lagi, yang praktis tak bisa dilalui karena jembatannya putus.

Apa kesan Darwati dalam kunjungan sosial untuk meninjau korban dan menyerahkan bantuan kali ini? “Prihatin. Saya kasihan sekali dengan anak-anak dan perempuan. Anak-anak yang hampir ujian, ke mana mereka harus belajar? Para perempuan dengan pakaian tinggal di badan, sungguh memprihatinkan.”

Itu sebab, menurut Darwati, bantuan pihaknya, baik secara pribadi maupun sumbangan semua anggota rombongan, walaupun turut menyumbang pangan, tapi lebih fokus pada kebutuhan perempuan dan anak. Seperti pakaian dalam, daster, handuk, mukena, dan kain sarung. “Saya berharap kepada Pak Camat, agar segera menyalurkan kebutuhan mendasar tersebut,” ujarnya.

Kedatangan Darwati disambut haru oleh warga Desa Pucok Dua. Praktis dialah orang penting dari Provinsi Aceh yang pertama datang ke situ. Ketika suaminya, Irwandi Yusuf berkunjung ke Tangse hari Jumat (11/3) dan Wagub Muhammad Nazar berkunjung pada hari Sabtu, kedua pejabat itu tak sampai ke Pucok Dua. Istri Bupati Pidie pun belum sampai ke sana sebelum Darwati datang.

Di desa ini seorang perempuan tua menghampiri Darwati. Ia menangis sembari mengadu bahwa putranya yang berumur 21 tahun belum juga ditemukan hingga hari ketiga bencana.

Menurut perkiraan Darwati, kondisi darurat tersebut bisa saja tidak segera pulih, mengingat kurang lancarnya akses jalan menuju Desa Pucok. Oleh sebab itu, ia mengimbau semua pihak agar secepatnya bisa bahu-membahu membantu meringankan derita para korban banjir Tangse. Dia tak khawatir soal pangan, tapi kebutuhan dasar anak dan perempuan perlu dimaksimalkan penyalurannya.

Secepatnya

Pembenahan jalan dan jembatan menuju desa-desa terisolir pascabanjir bandang, menurut Pasiter Kodim Pidie 0102, Wakid, yang mengkoordinir alat berat, pembersihan jalur, dan prasarana jalan sesungguhnya ingin diupayakan secepat mungkin, di bawah lima hari. Namun, pihaknya masih terkendala peralatan dan faktor cuaca.

Hingga kemarin petang, para personel TNI sedang menggreder sejumlah kayu gelondongan besar yang berhamparan di balan jalan desa. Sebagian prajurit turut membersihkan rumah-rumah penduduk yang digenangi lumpur dan pasir akibat banjir bandang. “Kalau pekerjaan ini tak selesai cepat, sasaran membangun tiga jembatan yang putus, ikut terhambat. Ini sangat memprihatinkan. Padahal, jalan ini penting sekali bagi warga,” kata Wakid.

Hingga menjelang waktu shalat Asar kemarin, walau tak mudah dilalui dengan jalan kaki, namun wilayah bencana masih dipadati berbagai kalangan yang membawa bantuan. Warga dari berbagai tempat di Pidie masih berlalu lalang ke desa korban bencana. Sebagian memang mencari kabar tentang sanak saudara mereka. Selebihnya hanya datang untuk menyaksikan pembersihan puing dan bengkalai banjir.

“Kalau saya memang ingin melihat keluarga di sini. Itu rumah mereka. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka bertahan malam itu saat terjebak di rumah panggungnya itu,” kata Irfan, seorang warga Beureunuen, sembari menunjuk rumah iparnya yang rusak parah.

(nani hs)

Akses m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.